Khutbah Sholat Khusuf

Khutbah Sholat Khusuf

.

Tanggal 14 Dzulhijjah 1435 (Rabu malam, 8 Oktober 2014) lalu tampak fenomena Gerhana Bulan –sebagai salah satu tanda kebesaran Allah– di atas angkasa Indonesia. Kata Gerhana sendiri dalam bahasa Arab disebut Khusuf. Disebutkan dalam Tartib Al Qamus Al Muhith (2/55) dan Lisanul ‘Arab (9/67) :

خَسَفَ الْمَكَانُ

“suatu tempat mengalami khusuf”

bila tempat itu tenggelam dan hilang ke dalam bumi. Di antara penggunaan kata tersebut dengan makna demikian adalah firman Allah ta’ala dalam Surah Al Qashash :

“Maka Kami benamkanlah (Qarun) beserta rumahnya ke dalam bumi.” (Al-Qashash: 81)

Berikut ini adalah rekaman audio khutbah Al Ustadz Luqman Ba’abduh saat pelaksanaan Sholat Khusuf.

 

Memuat…

Kumpulan Khutbah Idul Adha 1435 H

Kumpulan Khutbah Idul Adha 1435 H

.

Kumpulan khutbah Asatidzah Ahlus Sunnah di berbagai daerah di Indonesia pada pelaksanaan sholat Idul Adha 1435 H (5 Oktober 2014 M). Alhamdulillah, kenikmatan besar bagi Ahlus Sunnah Salafiyin merayakan Idul Adha bersama pemerintah dan dengan bimbingan para ulama.

Romantika Muda-mudi dalam Thalabul Ilmi

Romantika Muda-mudi dalam Thalabul Ilmi

.

.

Muhadhoroh Al Ustadz Mukhtar ibn Rifai di Masjid Al Abror Komplek Ma’had Ibnu Taimiyah, Sumpyuh Banyumas, pada 27 September 2014 (02 Dzulhijjah 1436 H).


.

 

Kapan Puasa Arofah?

Kapan Puasa Arofah?

.

Pembahasan tentang Dzulhijjah; keutamaan, cara penentuannya, kapan puasa arafah, dan hal-hal yang bersangkutan dengan bulan Dzulhijjah. Disampaikan oleh Al Ustadz Luqman Ba’abduh di Masjid Ulul Albab Situbondo pada 27 September 2014. 

.

 

Sumber : http://miratsul-anbiya.net/audio/pembahasan-tentang-dzulhijjah-keutamaan-cara-penentuannya-kapan-puasa-arafah-dan-yang-bersangkutan-dengan-bulan-dzulhijjah.

Ada Apa denganmu, Cintaku?

Ada Apa denganmu, Cintaku?

.

 

.

Selepas sholat maghrib kemarin, seorang ikhwah berdiri mematung menunggu saya keluar dari masjid. Tak biasanya beliau turut sholat berjama’ah di masjid kampung dekat tempat tinggal saya. Pun tak biasanya, wajahnya tampak kaku dengan senyuman dingin menggantung di ujung raut wajahnya… Tampaknya dirinya sedang memendam masalah. Saya mencoba membaca, ada apa gerangan saudaraku? Tangan dan suaranya bergetar tatkala menyerahkan lembaran kertas dari genggamannya… Saya sempat terdiam melihat deretan tulisan di lembaran tersebut.. Ternyata hasil pemeriksaan laboratorium istrinya atas permintaannya sendiri, bukan permintaan dokter. Saya bertanya mengapa sejauh ini periksa laboratorium tersebut, sementara biaya pemeriksaannya tentu saja mahal… Berkisar 1,5 juta… Lalu, mulailah beliau bercerita singkat.

Ingatan saya bersambung dengan kejadian yang dialami ikhwah lain. Beberapa bulan lalu di tempat yang terpisah, ada keluarga ikhwah yang tertimpa musibah. Janin yang berusia 4 bulan yang dikandung istrinya tidak berkembang, sehingga harus dikeluarkan dari rahim. Lain lagi yang dialami ikhwah yang lain… Sekitar sebulan yang lalu, seorang ikhwah pagi-pagi menelepon saya. Beliau bercerita istrinya baru saja melahirkan… Alhamdulillah… Namun, ada yang membuat saya ikut bersedih dengan musibah yang dialami ikhwah tersebut.. Ternyata, bayi yang baru saja lahir mengalami kelainan bawaan… Bibir bayi tersebut sumbing… Laahaula walaa quwwata illa billah…

Lembaran hasil laboratorium tadi kembali saya cermati… Seluruh pemeriksaan ditujukan untuk mengetahui apakah ada infeksi virus pada istri beliau. Beberapa pemeriksaan menunjukkan nilai positif. Yang jadi masalah ikhwah tersebut, sang istri sedang mengandung 6 bulan… Tentu hatinya tak menentu melihat deretan nilai positif yang terpampang di lembaran tersebut. Sementara, suami mana (yang peduli dengan istrinya) yang tak bergidik melihat istrinya yang tengah hamil ternyata positif terinfeksi TORCH ? Memang, nilai positif tersebut menunjukkan infeksi yang lampau. Tapi…. siapkah hati saat melihat anak yang lahir membawa kelainan bawaan? Tentu pertanyaan ini tak butuh jawaban…

Ada latar belakang masalah yang sama yang dialami ketiga ikhwah tersebut. Dalam kurun 3 tahun terakhir, banyak ikhwah kita makin giat berwirausaha beternak burung. Tentu ini kenyataan yang layak disyukuri… Alhamdulillah… Mungkin saja, di tengah tuntutan keluarga besar mereka untuk bekerja, mereka –para ikhwah– mampu membuktikan dengan berwirausaha sendiri, terhindar dari ikhtilath atau perkara yang menyelisih syar’i lainnya. Ya benar… Ketiganya pun beternak burung.

Di Bawah Sangkar Burung

Apakah ada yang salah dengan burung? Tidak. Tidak ada yang salah dengan burung. Hanya saja, saat kita memenuhi hak-hak keluarga kita, apakah kita memenuhi hak-hak burung tersebut? “Burung Cinta” Love Bird yang membuat kita jatuh cinta dengan warna-warninya yang eksotis.. Burung Kenari yang elok menari-nari dan berkicau.. Kacer Poci yang lihai meniru suara di sekitarnya.. Atau Anis dan Murai?

Kenyataan yang saya cermati, seringkali burung-burung itu tinggal bersama dengan pemeliharanya. Bahkan tak jarang, karena khawatir hilang atau sebab lain, tidur pun rela berbagi satu ruang dengan sang burung. Makan, minum dan aktivitas lain pun di bawah sangkar puluhan burung…

Yang lebih membuat ‘trenyuh’… Saat burung-burung tersebut butuh perhatian lebih, pemeliharanya begitu penuh kasih sayang merawat “Cintanya”.. Giliran anak sakit, nanti dulu… Bahkan berkata, “Anak saya tidak saya beri obat kimia!”. Atau alasan serupa lainnya… Bila sudah terjadi, siapa yang akan menanggung kesedihan saat anak terlahir dengan kelainan bawaan? Apakah sempat terbersit, bagaimana repotnya ibu saat menyusui anaknya yang sumbing? Meluangkan waktu untuk mengumpulkan ASI di botol khusus untuk bayi sumbing, sementara masih ada aktivitas rumah dan dars yang mesti diikutinya… Bagaimana bila bayi menderita kelainan bawaan yang lain, semisal kelainan jantung, kelainan mata dan telinga, peradangan otak atau retardasi mental? Allahul musta’an… Tentu semuanya takdir Alloh. Yang saya ungkap di sini adalah apakah kita memenuhi hak-hak burung tersebut?

Infeksi TORCH memang tidak hanya diperantarai burung melalui kotorannya. Bisa diperantarai faktor yang lain. Saya tidak berbicara faktor yang lain… Ketiga istri ikhwah tersebut sama-sama melakukan pemeriksaan TORCH untuk istri mereka. Satu orang yang janinnya tidak berkembang positif terinfeksi Toxoplama, satu orang yang bayinya sumbing positif terinfeksi Rubella, dan istri ikhwah yang tadi saya kisahkan positif Rubella, Citomegalovirus dan Herpes Simplex…

Burungpun butuh perawatan dan obat yang memadai supaya tidak menjadi perantara penyakit bagi manusia.

Ada Apa denganmu, Cintaku? Hanya sebuah renungan untuk para suami yang dihadapkan pilihan berat antara dua cintanya : Burung Cinta ataukah Keluarga Cintanya… Allohua’laam.

Ditulis oleh : Didit Aktono Hadi

Di Bawah Langit Mahwit

Di Bawah Langit Mahwit

 Oleh : Al Ustadz Abu Nasiim Mukhtar ‘iben‘ Rifa’i La Firlaz

.

“Rasa-rasanya, bintang di langit cerah justru nampak lebih indah saat ia berkelap-kelip. Kadang cahayanya menguat, terkadang meredup… Subhaanallah !” (Kamis Malam, 13 Juni 2013, 22.19.43)

.

Mahwit, Yaman

Mahwit, Yaman

.

Kata-kata di atas adalah bunyi SMS yang ana kirimkan kepada beberapa kawan di Yaman. Begitulah… Kata-kata seakan menjadi sahabat ana yang paling bisa mengerti dan memahami rindu. Menulis surat semacam ini pun –bagi ana– menjadi obat dan penawar rindu. Derasnya rindu yang mengalir di hati membutuhkan hilir sebagai muaranya dan kata-kata adalah laut lepasnya…

Salah seorang ikhwan di Shan’a asal Lombok bernama Haidar menjawab SMS tersebut,

“Bintang gemintang adalah bintang Allah. Awan gemawan adalah awan Allah. Semoga yang kerlap itu, kerlap penuh semangat untuk beramal. Semoga redup itu menyimpan bara ikhlas nan membara”

Malam itu… ana sedang berbaring menatap langit cerah di atas selembar selimut beralaskan karpet tipis di halaman sebuah masjid. Heningnya malam yang menyimpan ketenangan masih bisa ana rasakan ketika menulis surat ini. Baarakallahufiik…

.

Seorang kawan Yaman yang berasal dari sebuah propinsi bernama Mahwit rupanya tertarik mengajak ana untuk menengok kampung halamannya. Wah… tawaran yang sangat tidak mungkin untuk ana tolak. Ana sangat tertarik untuk jalan-jalan menembus batas-batas wilayah…

Kamis pagi 13 Juni 2013, kami bergerak meninggalkan pondok Dzamar dengan mengendarai sebuah bis berukuran sedang. Perjalanan selama empat jam dihiasi dengan relief-relief alam yang sangat menakjubkan. Hampir tidak ada jalan dengan trap lurus. Berkelok-kelok dengan sudut sempit membuat badan bergeser ke kanan dan ke kiri. Sketsa alam berupa pegunungan batu dan jurang-jurang curam mengingatkan ana tentang tamasya bersama keluarga ke Dataran Tinggi Dieng.

Sebenarnya mata agak berat untuk diangkat…, alis mata inginnya beristirahat sejenak. Namun apa daya, kesempatan emas seperti ini eman-eman untuk dilewatkan begitu saja. Sungguh… empat jam perjalanan itu sangat berkesan. Negara Yaman yang hanya terdiri dari 26.000.000 jiwa dengan bentangan wilayahnya yang luas membuat jarak antar desa yang ana lalui sangat berjauhan.

Pikir ana… empat jam perjalanan itu sudah cukup untuk mengantarkan ana sampai ke kampung halaman kawan itu. Ternyata… belum! Kami harus mengendarai mobil khusus yang memang dikenal tangguh di medan bukit-bukit berbatu. Sebuah jeep merk Toyota yang sudah berumuran empat puluh tahun rupanya cukup setia menggendong kami menuju tujuan.

Tidak ada secenti pun jalan menuju kampung halamannya yang beraspal. Seluruh lintasan jalan dari tanah kasar penuh batu dan tidak rata. Lubang-lubang adalah sahabat akrab ban mobil Toyota itu. Kurang lebih setengah jam kami melintasi jalan-jalan berbatu yang penuh goncangan menyenangkan itu.

Kira-kira sejarak dua sampai tiga kilometer, kami melintasi padang kaktus yang hampir berbuah –buahnya manis loh–. Sejauh mata memandang adalah pohon-pohon kaktus yang seakan mengucapkan salam kedatangan untuk kami. Pohon kaktus hanyalah satu dari banyak jenis pepohonan dan tetumbuhan yang agak menghijaukan gunung dan padang berbatu di Yaman. Seluruhnya adalah pohon-pohon berduri dengan ciri khas batangnya yang keras.

Subhaanallah!

Ana salah sangka lagi untuk yang kedua kalinya! Sesampainya di pemberhentian mobil terakhir, kami harus menggunakan motor berkopling buatan Cina –motor-motor di sini memang buatan Cina– untuk melanjutkan perjalanan menuju kampung halaman sang kawan.

Kampung-kampung badui! Luar biasa sekali! Pukul lima sore barulah kami benar-benar sampai. Alhamdulillah.

 

Kesederhanaan Kaum Badui

Kampung badui tempat kami beristirahat bernama Shanif. Kampung Shanif hanyalah sebuah kampung dari kumpulan kampung-kampung badui lainnya yang menginduk ke sebuah kabilah besar bernama Bani Sa’ad. Jarak antar kampung paling tidak satu kilometer. Padahal tiap-tiap kampung hanya berpenduduk seratus jiwa.

Di kampung Shanif, ana banyak belajar tentang kesederhanaan dan kebersahajaan.

Ternyata selama ini ana kurang-kurang bersyukur… Barangkali –seumur hidup– hanya beberapa kali saja ana pernah berucap Alhamdulillah dengan tulus dari dasar hati. Selain itu Alhamdulillah Alhamdulillah lainnya hanyalah terucap sebagai penghias bibir saja. Ya Allah… ternyata begitu banyak nikmat yang telah Engkau curahkan untuk kami. Ya Rahman… ternyata selama ini kami hidup dalam kelalaian. Ya Ghafuur… ternyata selama ini hambaMu terlalu sering mengeluh dan mengeluh…

Bayangkan saja…

Rumah-rumah mereka hanya tersusun dari batu-batu gunung tanpa semen atau cairan perekat lainnya. Atap rumah mereka adalah tumpukan ranting-ranting yang dianyam rapi di antara dahan-dahan pohon. Lantai rumah? Oh… begitu apa adanya. Lantai rumah mereka adalah hamparan bumi sebagaimana halaman rumah mereka.

Dalam setahun hanya beberapa kali saja hujan ditumpahkan dari langit. Tangki-tangki air (yang berisi dua atau tiga kali ukuran bak kamar mandi kami di Gang Nusa Indah) terlihat di halaman setiap rumah di kampung tersebut. Namun sekali isi tangki setara dengan harga sebesar 5.000 Real Yaman (Rp 250.000).

Masya Allah!

Bak kamar mandi kami di Gang Nusa Indah barangkali dalam sehari semalam bisa habis dipakai, sementara mereka bisa menggunakannya sampai berapa lama? Ana berpikir, sudah berapa kali 250.000 rupiah ana pakai untuk membasahi tubuh ini?

Tiap-tiap rumah mempunyai ayam, kambing, sapi dan unta untuk digembalakan. Jumlahnya bisa mencapai ratusan ekor. Tiap pagi menjelang, anak-anak mereka keluar menuju lereng gunung dan lembah untuk mengawal hewan-hewan gembalaan. Sore hari mereka pulang ke rumah masing-masing.

Ana sempat diajak kawan untuk menengok Pasar Desa… Subhaanallah! Pasar?? Pasar desa hanya terdiri dari beberapa bangunan toko sederhana. Selainnya hanyalah gubuk-gubuk kecil seperti pos ronda milik RT kami di Karang Baru. Ya Allah… berarti selama ini Engkau telah mencurahkan nikmat tak terhingga kepada kami.

 .

Pancaran Suka Cita

Wajah-wajah yang nampak tak terawat dan nilai-nilai perjuangan mereka yang tak kenal lelah dalam menjalani kehidupan, ternyata belum cukup untuk menutup pancaran bahagia… Benar… Walaupun hidup dalam kesederhanaan seperti itu, senyum mereka terlihat tulus dan lepas. Tawa mereka begitu renyah dan menyenangkan. Apalagi tamu mereka berasal dari Indonesia… Jauuuuh sekali, kata mereka.

Dalam hati ana tergores sebuah luka kecil setelah bertemu dengan mereka. Ana sangat-sangat iri dengan mereka…Hidup mereka adalah hidup apa adanya. Selain itu adalah ibadah dan ibadah. Tidak ada kesibukan lainnya. Tidak ada waktu untuk pusing dan bingung memikirkan urusan dunia.

Bagaimana dengan ana?

Walaupun kita tidak terlibat…, namun setiap hari kita disuguhi oleh informasi-informasi yang menyesakkan dada. Pertarungan di panggung politik, pembunuhan dan perampokan, pemerkosaan dan pelecehan seksual, korupsi dan kolusi…dan masih banyak lagi hal-hal membosankan lainnya.

Dunia ini memang telah tua umurnya. Sesaat lagi hari kiamat dibangkitkan. Ana teringat kembali dengan sebuah sabda Rasulullah (hadits Abu Sa’id riwayat Bukhari),

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ، خَيْرُ مَالِ الرَّجُلِ المُسْلِمِ الغَنَمُ، يَتْبَعُ بِهَا شَعَفَ الجِبَالِ وَمَوَاقِعَ القَطْرِ، يَفِرُّ بِدِينِهِ مِنَ الفِتنِ

“Akan tiba masanya nanti untuk umat ini,harta terbaik yang dimiliki oleh seorang muslim adalah kambing-kambing. Ia menggembalakannya di lereng-lereng gunung dan titik-titik hujan. Ia lari dari fitnah demi menyelamatkan agamanya”

 

Malam Selepas Isya’

Selepas shalat Isya’ dan makan malam yang sederhana… Roti-roti gandum yang dimasak dengan kayu bakar adalah santapan pokoknya. Minyak samin yang dipadu dengan susu sapi adalah lauknya. Ada juga semacam sayur yang terbuat dari potongan-potongan kentang dan tomat. Sebagai penutup secangkir teh panas dan kental menambah lengkap pengalaman ana di Propinsi Mahwit.

Tidak ada listrik!

Mesin genset barangkali hanya sebuah saja untuk tiap-tiap kampung. Untuk keperluan listrik mereka menggunakan aki-aki besar yang diisi jasa pengisian batere aki di kota.

Malam itu benar-benar berkesan…

Tidak ada rumah yang bisa menampung tamu… Pilihannya adalah halaman masjid. Sebenarnya bisa saja tidur malam di dalam masjid… Namun daerah Mahwit adalah daerah panas sangat… Jika memaksakan diri tidur di dalam masjid, bisa jadi bangun-bangun Shubuh sudah banjir keringat.

Ada tiga orang yang menemani ana malam itu… Dua orang anak muda, yang seorang sudah cukup tua… Cukup berselimutan sarung cap Gajah Duduk, ana menikmati malam itu… Sangat sulit untuk memejaman kedua mata ini.

Tak henti-hentinya ana memandang dan mengagumi keindahan langit… Suasana gelapnya malam, sketsa gunung-gunung di sekeliling kampung, juga suara-suara hewan malam semakin menambah syahdunya suasana.

Di saat itulah Ana menulis SMS di atas,

“Rasa-rasanya, bintang di langit cerah justru nampak lebih indah saat ia berkelap-kelip. Kadang cahayanya menguat, terkadang meredup… Subhaanallah!” (Kamis Malam, 13 Juni 2013, 22.19.43)

Subhaanaallah!

Sudah sekian lama Ana merindukan ketenangan dan ketentraman semacam ini… Hati sejuuuuuk sekali… Bayangan entah terbang ke sana dan ke mari… Inilah pilihan Allah untuk hamba-hamba Nya… Dan itulah yang terbaik!

Ana pun yakin bahwa kita dipilihkan Allah untuk hidup di belahan bumi yang sangat bertolak belakang dengan suasana kampung-kampung badui ini… Pasti karena hikmah yang agung… Ana yakin bahwa seandainya kita pun hidup seperti mereka di kampung-kampung badui ini, belum tentu menjadi baik untuk kita… Apa yang Allah pilihkan untuk kita itulah yang terbaik!

Hanya saja sesekali kita memang perlu merenung dan bertafakkur… agar mampu menjadi hamba yang bersabar dan bersyukur… Ternyata masih banyak saudara-saudara kita (dalam hal materi dan dunia)… yang tarafnya berada di bawah kita… Walaupun bisa jadi mereka lebih bisa merasakan bahagia dibandingkan kita yang diuji dengan limpahan nikmat dari Allah.

Ya Allah mudahkanlah kami untuk menjadi hamba-hamba Mu yang selalu bersyukur dan bersabar…

 .

_saudara Antum

_abu nasiim mukhtar “iben” rifai_helga la firlaz

_dzamar, yemen_17 Juni 2013_20.55 WIY

_sedang berdomisil di Kerajaan Rindu_

(Catatan : balasan surat Ustadzuna kepada salah seorang ikhwah Solo. Telah diedit redaksi ibnutaimiyah.org tanpa mengurangi makna)

Apa Setelah Ramadhan?

Apa Setelah Ramadhan?

Oleh : Asy Syaikh Khalid ibn Dhahfy Adz Dzafiry

.

Apa setelah Ramadhan?

.

Nasihat Asy Syaikh Khalid ibn Dhahfy Azh Zhafiri saat mengisi khutbah Juma’t di Masjid Sa’idiy di Jahra Kuwait pada hari Jum’at, 5 Syawal 1435 H.

Sumber audio :

Unduh di sini.

Khutbah Idul Fitri 1435 H Asy Syaikh Khalid Dhahfy Adz Dzafiry

Khutbah Idul Fitri 1435 H Asy Syaikh Khalid Dhahfy Adz Dzafiry

.

Khutbah Idul Fithri 1435 H Asy Syaikh Khalid Dhahfy Adz Dzafiry

.

Khutbah Idul Fitri 1 Syawal 1435 H oleh Asy Syaikh Khalid ibn Dhahfy Adz Dzafiry.

 

Sumber audio : http://ar.miraath.net/audio/9387/1435

Unduh di sini.

Khutbah Idul Fitri 1435 H Ma’had Darus Salaf

Khutbah Idul Fitri 1435 H Ma’had Darus Salaf

.

Khutbah Idul Fithri 1435

.

Khutbah Idul Fitri 1 Syawal 1435  H (28 Juli 2014) oleh Al Ustadz Fauzan hafidzahullah .

 

Unduh di sini.

Nasihat Akhir Ramadhan 1435 H

Nasihat Akhir Ramadhan 1435 H

Oleh : Asy Syaikh Khalid ibn Dhahfy Azh Zhafiry

.

Nasihat Akhir Ramadhan 1435 H

Nasihat Akhir Ramadhan 1435 H oleh Asy Syaikh Khalid Azh Zhafiri saat mengisi khutbah Juma’t di Masjid Sa’idiy di Jahra Kuwait pada hari Jum’at, 27 Ramadhan 1435 H.

.

Sumber : http://ar.miraath.net/audio/9378
Unduh audio di sini.

%d bloggers like this: