Masalah Ziyarah Pada Hari Raya

Masalah Ziyarah pada Hari Raya

Oleh : Asy Syaikh Muqbil ibn Hadi Al Wadi’i Rahimahullah

.

 Masalah Ziyarah pada Hari Raya

.

Bagian 1

Penanya:

Kapankah dimulai waktu mengucapkan selamat pada hari raya, dan sampai kapan hari hari raya berlangsungnya hari raya dan ucapan selamat tersebut?

Jawab:

Tentang mengucapkan selamat saya tidak mengetahui sedikit pun dalil pada masalah tersebut, namun tidak masalah manusia saling menyampaikan ucapan selamat pada hari raya disebabkan kebaikan yang mereka dapatkan. Dan diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi was sallam bahwasanya beliau bersabda tentang Idul Fithri:

.

وَلِتُكَبِّرُوْا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ

“Agar kalian bertakbir mengagungkan Allah atas hidayah-Nya kepada kalian.”

.

Tetapi yang dimaksud bukan ini. Sama sekali tidak ada riwayat yang shahih bahwa yang dimaksud adalah semacam ucapan selamat. Namun jika manusia saling menyampaikan ucapan selamat maka hal itu tidak masalah insya Allah, tidak sampai pada batasan bid’ah. Dan di sana tidak ada penentuan waktu atau pembatasan. Tetapi yang dilakukan oleh manusia dan kesibukan mereka dengan melakukan ziyarah pada hari raya tidak ada dalilnya. Yaitu apa yang dilakukan sejak pagi hari raya hingga maghrib, demikian juga pada hari kedua, hari ketiga dan seterusnya (–kalimat  kurang jelas–) Ini adalah perkara yang tidak dalilnya. Wallahul musta’an.

Sumber audio: http://www.ajurry.com/vb/attachment.php?attachmentid=30140&d=1373842374

 

Bagian 2

Penanya: 

Apa hukum mencium pipi pada hari tersebut (hari raya) dan ucapan sebagian orang: “Kulla aamin wa antum bikhair (semoga engkau dalam keadaan baik sepanjang tahun)” dan “Taqaballahu…” dan yang semisalnya?

Jawaban:

Adapun mencium pipi maka hal ini tidak ada riwayatnya, namun jika khawatir fitnah maka wajib meninggalkan, yaitu hukumnya haram jika khawatir fitnah, seperti mencium anak muda yang belum tumbuh jenggotnya dan dia khawatir terfitnah dengannya, sehingga wajib untuk meninggalkannya. Yang memungkinkan adalah berjabatan tangan. Rasul shallallahu alaihi was sallam bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَيْنِ إِذَا الْتَقَيَا وَتَصَافَحَا وَصَلَّيَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَقَطَتْ ذُنُوْبُهُمَا وَمُحِيَتْ ذُنُوْبُهُمَا.

.

“Sesungguhnya dua orang jika bertemu, berjabat tangan, dan bershalawat untuk Nabi shallallahu alaihi was sallam, maka gugurlah dosa keduanya dan dihapus.”

.

Ini perkara pertama. Perkara yang lain adalah bahwasanya tidak ada dalil tentang pengkhususan hari raya dengan mencium wajah atau tangan.
Dan juga tidak ada pengkhususan ziyarah dari Nabi shallallahu alaihi was sallam pada hari raya.

Yang jelas ya ikhwah, hari raya khususnya Idul Adha adalah hari yang penuh barakah. Rasul shallallahu alaihi was sallam bersabda tentang hari-hari tasyriq:

أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرِ اللهِ.

.

“Hari-hari untuk makan, minum dan berdzikir mengingat Allah.”

Yaitu hari kedua, ketiga, dan keempat setelah Idhul Adha. Jadi hari-hari ini adalah hari-hari untuk makan, minum dan berdzikir mengingat Allah. Hanya saja sebagian manusia ada yang pergi dari rumah ke rumah.

Dan yang lebih buruk dari hal semacam ini adalah terkadang ada yang berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram.

Sumber audio dan transkrip : http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=30603

Alih bahasa: Abu Almass
Sabtu, 28 Ramadhan 1435 H

Hukum Zakat Fitrah

Hukum Zakat Fitrah

.

Hukum Zakat Fitrah

.

Kajian tentang Hukum Zakat Fitrah oleh Asy Syaikh Khalid Azh Zhafiri di Masjid Sa’idiy di Jahra Kuwait pada hari Kamis, 26 Ramadhan 1435 H.

.

Unduh audio di sini.

Berkunjung kepada Karib Kerabat pada Hari ‘Idul Fithri

Berkunjung kepada Karib Kerabat pada Hari ‘Idul Fithri

Oleh : Asy Syaikh Muhammad bin Hadi Al Madkhali hafizhahullah

.

Berkunjung kepada Karib Kerabat pada Hari ‘Idul Fithri

.

Unduh Audio di sini.

.

Pertanyaan :

Apa hukum mengkhususkan berkunjung kepada karib kerabat dan teman-teman pada hari ‘Id (Idul Fithri -pent)?

Jawab :

Ini amalan yang bagus. Karib kerabat adalah orang-orang yang paling berhak untuk kita menyambung silaturrahmi dengan mereka. Karena mereka adalah orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan (dengan kita). Mereka adalah orang yang paling berhak, maka mulailah dari mereka, kemudian setelah itu orang-orang yang selain mereka.

.

Ini merupakan hal yang dituntut, yaitu seseorang memulainya dengan karib kerabat. Karena karib kerabat adalah orang yang paling kuat/besar haknya dibanding selainnya. Maka ketika itu, hendaknya berbuat baik kepada mereka dulu. Kemudian setelah itu, apabila didapati waktu lain, maka bisa mengunjungi saudara-saudaranya (yang lainnya).

.

Jika itu bisa terwujud, maka Alhamdulillah. Jika tidak terwujud, maka itu bukanlah sunnah pada kesempatan tersebut. Namun mencukupkan mencukupkan bertemu dengan mereka di mushalla (tempat shalat ‘Id), juga dengan bertemu dengan mereka di masjid, pada shalat lima waktu. Jika ini terwujud maka cukup, Alhamdulillah.

.

Tidak dipersyaratkan engkau pergi ke rumahnya. Namun hal ini telah menjadi adat. Sedangkan adat ini tidaklah bertentangan dengan syari’at, dan mereka (muslimin) tidak meyakini ini sebagai ibadah. Hal itu karena, hari itu (Hari ‘Idul Fithri, pen) adalah hari gembira dan bahagia. Maka itu semua tidak mengapa.

.

Sumber : WA Miratsul Anbiya Indonesia dari http://ar.miraath.net/fatwah/4062

Berhari Raya Bersama Penguasa

Berhari Raya Bersama Penguasa

Oleh : Al Ustadz Ayip Syafruddin

.

Berhari Raya Bersama Penguasa

.

Al-Imam Ibnu Baththah rahimahullah, dalam Al-Ibanah, menyebutkan, bahwa telah menjadi kesepakatan di kalangan ulama ahli fikih, ilmu, ahli ibadah dan orang-orang zuhud sejak generasi pertama hingga sekarang, Shalat Jumat, Idul Fitri, Idul Adha, hari-hari Mina dan Arafah, jihad, haji serta penyembelihan hewan kurban dilaksanakan bersama penguasa. Penguasa yang baik atau jahat.

Telah menjadi prinsip agama pula bahwa penguasa wajib ditaati dalam hal yang ma’ruf. Termasuk ketaatan terhadap penguasa, yaitu mengikuti ketetapan pihak penguasa atau pemerintah dalam penentuan hari raya bagi seluruh kaum muslimin. Dengan mengikuti keputusan penguasa dalam hal penetapan hari raya berarti telah menunaikan titah Allah Ta’ala:

يا أيها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم
.

.

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan ulil amri di antara kalian.” (An-Nisa:59)

Yang dimaksud ulil amri dalam firman Allah di atas, yaitu penguasa dan para pemimpin umat. Mereka adalah orang-orang yang wajib untuk ditaati (dalam hal yang ma’ruf).

Dalam hadits Bukhari-Muslim, hadits dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من أطاعني فقد أطاع الله ومن عصاني فقد عصى الله ومن أطاع أميري فقد أطاعني ومن عصى أميري فقد عصاني

“Barangsiapa menaatiku, sungguh ia telah menaati Allah. Barangsiapa bermaksiat kepadaku, sungguh ia telah bermaksiat kepada Allah. Barangsiapa menaati pemimpin, sungguh ia telah menaatiku. Barangsiapa bermaksiat terhadap pemimpin, sungguh ia telah bermaksiat kepadaku.”

Terkait menaati keputusan penguasa atau pemerintah dalam hal berhari raya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan bimbingannya. Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:

الصوم يوم تصومون والفطر يوم تفطرون والأضحى يوم تضحون

“Berpuasa adalah pada hari kalian (kaum muslimin) berpuasa, (begitu pula) berbuka (merayakan Idul Fitri) pada hari kalian berbuka dan berkurban (merayakan Idul Adha) pada hari kalian berkurban.”

Al -Imam At-Tirmidzi rahimahullah menyebutkan (dalam Tuhfatul Ahwadzi), bahwa berpuasa dan berbuka ditunaikan secara berjamaah dan bersama mayoritas kaum muslimin.

Untuk mewujudkan kebersamaan tersebut tentu harus dibawah arahan penguasa. Sebagaimana disebut para ulama, bahwa menentukan ketetapan hari raya diputuskan oleh pihak penguasa atau pemerintah.

Dengan mengikuti tuntunan agama yang benar, maka syiar-syiar Islam akan nampak. Kebersamaan dan persatuan akan terasa di hati umat. Semua itu tentu merupakan nikmat yang tiada terhingga. Semoga dengan menaati penguasa dalam hal yang ma’ruf, termasuk hari raya Idul Fitri, membangkitkan kebaikan bagi kaum muslimin. Allahu ‘a’lam.

Bolehkah Mengkhususkan Berkunjung pada Hari Raya?

Bolehkah Mengkhususkan Berkunjung pada Hari Raya?

Oleh : Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albany rahimahullah

.

Bolehkah Berkunjung Khusus Saat  Hari Raya

.

.

Pertanyaan:

Kami mendengar bahwa saling berkunjungnya manusia pada hari raya merupakan bid’ah. Maka kami berharap penjelasan hukum yang berkaitan dengan berkunjung kepada saudara dan apa yang dilakukan oleh manusia pada hari raya?

Jawaban :

Kami telah mengatakan berkali-kali dan berulang-ulang sehingga tidak butuh rincian. Maka kami katakan secara ringkas:

.

Berkunjung yang dilakukan oleh orang hidup kepada orang yang telah meninggal (ziyarah kubur -pent) pada hari raya (atau sehari sebelumnya -pent) termasuk bid’ah, sebab (hal ini) mengkhususkan sesuatu yang dimutlakkan oleh peletak syari’at (Allah Subhanahu wa Ta’ala).

Rasulullah shallallahu alaihi was sallam bersabda dalam sebuah hadits yang shahih:

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ، أَلَا فَزُوْرُوْهَا؛ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمْ الْآخِرَةَ

.

Dahulu aku pernah melarang kalian ziyarah kubur, sekarang berziyarahlah karena hal itu akan mengingatkan kalian kepada kehidupan akherat. (HR. Muslim no. 1977 dan selainnya -pent)

.

Jadi sabda beliau: ‘Berziyarahlah!’ Ini adalah perintah yang umum, sehingga tidak boleh dikhususkan pada waktu atau tempat tertentu. Karena mengkhususkan nash (dalil) atau memutlakkannya bukan hak manusia, tetapi merupakan hak Rabbul Alamin yang telah memberikan beban syariat kepada Rasul-Nya yang mulia dengan berfirman:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ

.

Dan Kami telah menurunkan Al-Qur’an kepadamu agar engkau menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan untuk mereka itu. (QS. An-Nahl: 44)

.

Jadi, tidak ada sebuah nash yang bersifat mutlak (umum) padahal sebenarnya ada pengkhususan, kecuali Rasulullah shallallahu alaihi was sallam pasti akan menjelaskannya. Dan bila ada sebuah nash pun yang bersifat umum padahal sebenarnya dikhususkan, pasti beliau khususkan, sedangkan yang tidak beliau khususkan berarti tidak bersifat khusus.

.

Ketika beliau mengatakan: ‘Berkunjunglah!’ Maka ini bersifat mutlak pada semua hari-hari dalam setahun, tidak ada perbedaan antara satu hari dengan hari yang lain, juga tidak ada perbedaan antara satu waktu dengan waktu yang lain dalam sehari, jadi boleh pagi atau sore atau siang atau malam dan seterusnya.

.

Maka demikian juga kami katakan: sebagaimana berkunjung yang dilakukan oleh orang hidup kepada orang yang telah meninggal (ziyarah kubur) pada hari raya secara khusus, demikian juga kunjungan yang dilakukan oleh orang yang masih hidup kepada yang orang lainnya secara khusus, hukumnya sama seperti berkunjung yang dilakukan oleh orang yang hidup kepada orang yang telah meninggal (yaitu bid’ah).

Sumber audio dan transkrip: http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=20509

Unduh Audio di sini

Alih bahasa: Abu Almass
Kamis, 26 Ramadhan 1435 H

(Diksi telah diedit oleh redaksi tanpa mengubah makna)

Menukil Perkataan Ulama dalam Mentahdzir Bukan Berarti Ahli Jarh Wa Ta’dil

Menukil Perkataan Ulama dalam Mentahdzir Seseorang Bukan Berarti Memposisikan Diri Sebagai Ahli Jarh Wa Ta’dil

Oleh : Asy-Syaikh Ahmad Bazmul hafizhahullah

.

.

Permasalahan terakhir yang ingin saya sampaikan adalah perhatian serius terhadap ilmu, belajar, dan merujuk kepada para ulama. Seorang penuntut ilmu pemula atau yang tidak memiliki kapasitas untuk memasuki perkara jarh wa ta’dil maka tidak boleh terburu-buru tampil untuk mengurusi masalah jarh wa ta’dil. Dia tidak boleh memvonis seseorang sebagai mubtadi’ atau orang sesat. Ini adalah perkara yang merupakan hak para ulama dan para penuntut ilmu yang memiliki kemampuan. Baik, (kalau ada yang bertanya-pent):

“Lalu bagaimana sikap saya? Apakah saya boleh diam dan tidak menjarh Al-Ma’riby (Abul Hasan-pent), apakah saya tidak boleh menjarh si fulan?”

Kita katakan: beda masalahnya, jika para ulama telah menjarh seseorang, maka jarhlah dia dengan menukil perkataan para ulama! Misalnya Al-Ma’riby ini dia telah dicela oleh Zaid (ibn Muhammad) Al-Madkhaly, Asy-Syaikh (Ahmad) An-Najmy, Asy-Syaikh Rabi’, Asy-Syaikh Abdullah Al-Bukhary, dan Asy-Syaikh Muhammad bin Hady. Jadi saya sekedar menukilnya. Tetapi jangan sampai engkau berdebat, karena engkau hanyalah seorang penuntut ilmu! Cukup jelaskanlah kepada orang perkataan para ulama! Kalau perkataan ulama saja tidak dia terima, terlebih lagi dia tidak akan menerima ucapanmu. Yang berbahaya di sini adalah jika engkau seorang penuntut ilmu yang tidak memiliki hujjah, sementara lawan bicaramu datang kepadamu dengan membawa dalil-dalil sehingga dia mengkaburkan permasalahannya kepadamu. Maka mana sikap adil, inshaf, takwa, dan rasa takut terhadap Allah? Jadi dia akan menggoncang dirimu dan menggoncang kekokohanmu sehingga engkau akan menjadi bingung. Jelas? Jadi jangan sekali-kali masuk ke dalam perdebatan. Dan hal ini, peringatan para ulama terhadap para pemuda Salafiyun agar mereka tidak berbicara tentang jarh wa ta’dil. Para ulama tersebut bukan bermaksud memperingatkan para pemuda agar jangan menukil perkataan para ulama tentang orang-orang yang dijarh. Sebagian mereka (hizbiyun atau yang meniru mereka-pent) mengingkari para pemuda Salafiyun yang menukil perkataan Asy-Syaikh Rabi’ atau Asy-Syaikh An-Najmy atau fulan atau fulan tentang Al-Ma’riby, Al-Halaby, dan fulan, fulan. Dia mengatakan:

“Para ulama memperingatkan dari tindakan semacam ini? Tidak, para ulama itu mereka tidak memperingatkan agar jangan menukil kebenaran, dan mereka juga tidak memperingatkan agar jangan mentahdzir kebathilan.”

Tetapi mereka memperingatkan engkau wahai penuntut ilmu pemula dan siapa saja yang belum memiliki kemampuan yang mapan, agar jangan berbicara tentang jarh wa ta’dil sebelum memiliki keilmuan yang kokoh dan jangan mendahului para ulama. Jelas? Mengetahui perbedaan dua hal ini merupakan perkara yang penting.

 

Sumber audio: www.youtube.com/watch?v=ExH_-kunKz8
Alih bahasa: Abu Almass
Selasa, 24 Ramadhan 1435 H

(Diksi telah diedit redaksi tanpa mengurangi makna)

 

Download Muhadharoh Masjid Ibnu Taimiyah Maret 2014

Beda Antara Nasehat dan Celaan

oleh : Al Ustadz Syafruddin hafizhahullah

Al Ustadz Syafruddin [sesi 1 ]

Al Ustadz Syafruddin [sesi 2 ]

Al Ustadz Syafruddin [sesi tanya jawab ]

 

Oleh-Oleh dari Yaman

oleh : Al Ustadz Abu Nasiim Mukhtar bin Rifa’i  hafizhahullah

Al Ustadz Abu Nasiim Mukhtar bin Rifa’i [Oleh-Oleh dari Yaman ]

 

Nafas Seorang Tholib “Belajar dan Berbuat”

oleh : Al Ustadz Abu Nasiim Mukhtar bin Rifa’i  hafizhahullah

Al Ustadz Abu Nasiim Mukhtar bin Rifa’i [Sesi 1 ]

Al Ustadz Abu Nasiim Mukhtar bin Rifa’i [Sesi 2 ]

Al Ustadz Abu Nasiim Mukhtar bin Rifa’i [Sesi Tanya Jawab ]

Salafy Kecilku

pematang sawah

pematang sawah

“Ustadzah, gambarku sudah selesai!”. Tiba-tiba suara nyaring memecah keheningan. “Aku juga, aku juga!” yang lain pun susul-menyusul. Makhluk-makhluk kecil itu pun berhamburan, berebut menuju seorang perempuan di depan kelas yang melayani mereka dengan sabar. Ustadzah, begitu mereka memanggilnya. Senyuman ia tebarkan sembari menenangkan mereka……

Demikian kurang lebih potret keseharian sebuah taman kanak-kanak salafi dengan ujung tombak para perempuan yang akrab dengan sebutan ustadzah. Walaupun mereka sadar ilmu mereka tidak seberapa. Lelah dan letih tidak mereka hiraukan demi pendidikan generasi salafi. Ya, pendidikan generasi salafi.

Mau kita bawa kemana pendidikan generasi salafi kita?

Cita-cita apa yang ingin kita tanamkan di benak anak-anak kita?

Gantungkan cita-citamu setinggi langit?..tidak cukup!.

Tapi menjulang tinggi menggapai sorga Alloh ‘azza wa jalla.

Pendidikan kita bukan mencetak hamba-hamba dinar, bukan pula pemburu gelar tapi mencetak muwahhid mujahid sejati. Mari kita lihat pendidik terbaik yang telah berhasil mencetak generasi terbaik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala memberi wejangan kepada Ibnu Abbas: “Wahai anak muda! Jagalah Alloh niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Alloh niscaya kau akan dapati Dia dihadapanmu. Jika kau meminta, mintalah kepada Alloh. Dan jika kau meminta pertolongan, minta tolonglah kepada Alloh. Ketahuilah! jika umat ini berkumpul untuk memberimu manfaat, mereka tidak akan mampu memberimu manfaat kecuali apa yang telah Alloh tetapkan untukmu dan jika mereka berkumpul untuk menimpakan madhorot kepadamu mereka tidak akan mampu menimpakan madhorot kecuali apa yang telah Alloh tetapkan menimpamu…”. [1]

Subhanalloh!. Bayangkan para salafi kecil yang tumbuh dengan aqidah seperti itu menancap kokoh di dada-dada mereka! Generasi yang tidak mengenal takut kecuali kepada Alloh, tidak beribadah kecuali kepada Alloh. Generasi yang kokoh diatas tawakal kepada Alloh semata.

Itu semua tidak lepas dari peran seorang ustadzah. Disela-sela kesibukannya melayani keluarga tercinta, ia sempatkan berjuang mendidik generasi salafi. Mereka tidak mengenal istilah sertifikasi. Yang mereka tahu salafi kecil bisa membaca dan menulis. Yang mereka tahu salafi kecil bisa membaca Al Qur’an. Betapa mulia amalan mereka.

Wahai saudariku ikhlaskan amalanmu untuk Alloh! Dan berharaplah balasan-Nya!

Kuberi engkau kabar gembira dari Rasulullah, beliau bersabda: ” Sesungguhnya Alloh dan para malaikatnya dan penduduk langit dan bumi sampai semut dalam sarangnya dan ikan-ikan bersholawat (mendoakan dan memintakan ampunan) atas orang-orang yang mengajarkan manusia kebaikan” [2]

Besarkan harapanmu kepada Alloh dan bergembiralah tatkala salafi-salafi kecilmu tumbuh menjadi mujahid-mujahid tangguh pengibar panji dakwah salafiyah di bumi pertiwi!…biidznillahi ta’ala.

_________________________
[1] riwayat At Tirmidzi dan dishohihkan oleh Syaikh Al Wadi’i dan Syaikh Al Albani
[2] riwayat At Tirmdzi dan dihasankan syaikh Al Albani dalam Al Misykah.

ditulis oleh : Abu Harits Maos – Daarul Hadits Fyus Yaman

Penerimaan Santri Baru Ma’had Daarus Salaf Al Islamy Solo Tahun Ajaran 2014/2015

Penerimaan Santri Baru Ma’had Daarus Salaf Al Islamy Solo Tahun Ajaran 2014/2015

Pendaftaran:

-Gelombang 1: tgl 21-30 April 2014-Gelombang 2: tgl 16-21 Juni 2014

 

Gel.I test tertulis/lisanPengumumanDaftar Ulang : tgl.4 Mei 2014: 10 Mei 2014tgl 12-14Mei 2014
Gel.II testPengumumanDaftar ulang : 22 juni 2014: tgl.24 Juni 2014: tgl.25-26Juni 2014

 

Mulai masuk tgl 30 juni 2014

*Gelombang ke 2 di tiadakan apabila kuota sudah terpenuhi.

Syarat-syarat pendaftaran:

Syarat-syarat pendaftaran:

  1. Santri non asrama telah berumur 7 tahun atau telah lulus Tk/pratahfidz. Santri Asrama telah berumur 12-14 tahun pada bulan juli 2014 atau telah lulus SD/MI.
  2. Membayar Uang pendaftaran Rp.50.000,- .
  3. Calon santri harus mengikuti test.
  4. Wali calon santri harus mengikuti wawancara.
  5. Santri pindahan dari ma’had lain harus membawa surat berkelakuan baik.
  6. Bersedia menaati segala peraturan.

 

Pendaftaran dilayani melalui sms/telp:

Cp.081326666202

 

1

Download Muhadharoh AlUstadz Abu Mu’awiyyah Askari-Meniti Jejak Salafus Shalih dalam Menghadapi Bara Api Kesesatan

Meniti Jejak Salafus Shalih dalam Menghadapi Bara Api Kesesatan

Meniti Jejak Salafus Shalih dalam Menghadapi Bara Api Kesesatan

Meniti Jejak Salafus Shalih dalam Menghadapi Bara Api Kesesatan

oleh : Al Ustadz Abu Muawiyah Asykari hafizhahullah

di Masjid Nurul Huda Sumbawa

 

Al Ustadz Abu Muawiyah Asykari hafizhahullah [sesi 1 ]

Al Ustadz Abu Muawiyah Asykari hafizhahullah [sesi 2 ]

Al Ustadz Abu Muawiyah Asykari hafizhahullah [sesi 3 ]

Al Ustadz Abu Muawiyah Asykari hafizhahullah [sesi 4 ]

Al Ustadz Abu Muawiyah Asykari hafizhahullah [sesi 5 ]

Al Ustadz Abu Muawiyah Asykari hafizhahullah [sesi tanya jawab ]