Menukil Perkataan Ulama dalam Mentahdzir Bukan Berarti Ahli Jarh Wa Ta’dil

Menukil Perkataan Ulama dalam Mentahdzir Seseorang Bukan Berarti Memposisikan Diri Sebagai Ahli Jarh Wa Ta’dil

Oleh : Asy-Syaikh Ahmad Bazmul hafizhahullah

.

.

Permasalahan terakhir yang ingin saya sampaikan adalah perhatian serius terhadap ilmu, belajar, dan merujuk kepada para ulama. Seorang penuntut ilmu pemula atau yang tidak memiliki kapasitas untuk memasuki perkara jarh wa ta’dil maka tidak boleh terburu-buru tampil untuk mengurusi masalah jarh wa ta’dil. Dia tidak boleh memvonis seseorang sebagai mubtadi’ atau orang sesat. Ini adalah perkara yang merupakan hak para ulama dan para penuntut ilmu yang memiliki kemampuan. Baik, (kalau ada yang bertanya-pent):

“Lalu bagaimana sikap saya? Apakah saya boleh diam dan tidak menjarh Al-Ma’riby (Abul Hasan-pent), apakah saya tidak boleh menjarh si fulan?”

Kita katakan: beda masalahnya, jika para ulama telah menjarh seseorang, maka jarhlah dia dengan menukil perkataan para ulama! Misalnya Al-Ma’riby ini dia telah dicela oleh Zaid (ibn Muhammad) Al-Madkhaly, Asy-Syaikh (Ahmad) An-Najmy, Asy-Syaikh Rabi’, Asy-Syaikh Abdullah Al-Bukhary, dan Asy-Syaikh Muhammad bin Hady. Jadi saya sekedar menukilnya. Tetapi jangan sampai engkau berdebat, karena engkau hanyalah seorang penuntut ilmu! Cukup jelaskanlah kepada orang perkataan para ulama! Kalau perkataan ulama saja tidak dia terima, terlebih lagi dia tidak akan menerima ucapanmu. Yang berbahaya di sini adalah jika engkau seorang penuntut ilmu yang tidak memiliki hujjah, sementara lawan bicaramu datang kepadamu dengan membawa dalil-dalil sehingga dia mengkaburkan permasalahannya kepadamu. Maka mana sikap adil, inshaf, takwa, dan rasa takut terhadap Allah? Jadi dia akan menggoncang dirimu dan menggoncang kekokohanmu sehingga engkau akan menjadi bingung. Jelas? Jadi jangan sekali-kali masuk ke dalam perdebatan. Dan hal ini, peringatan para ulama terhadap para pemuda Salafiyun agar mereka tidak berbicara tentang jarh wa ta’dil. Para ulama tersebut bukan bermaksud memperingatkan para pemuda agar jangan menukil perkataan para ulama tentang orang-orang yang dijarh. Sebagian mereka (hizbiyun atau yang meniru mereka-pent) mengingkari para pemuda Salafiyun yang menukil perkataan Asy-Syaikh Rabi’ atau Asy-Syaikh An-Najmy atau fulan atau fulan tentang Al-Ma’riby, Al-Halaby, dan fulan, fulan. Dia mengatakan:

“Para ulama memperingatkan dari tindakan semacam ini? Tidak, para ulama itu mereka tidak memperingatkan agar jangan menukil kebenaran, dan mereka juga tidak memperingatkan agar jangan mentahdzir kebathilan.”

Tetapi mereka memperingatkan engkau wahai penuntut ilmu pemula dan siapa saja yang belum memiliki kemampuan yang mapan, agar jangan berbicara tentang jarh wa ta’dil sebelum memiliki keilmuan yang kokoh dan jangan mendahului para ulama. Jelas? Mengetahui perbedaan dua hal ini merupakan perkara yang penting.

 

Sumber audio: www.youtube.com/watch?v=ExH_-kunKz8
Alih bahasa: Abu Almass
Selasa, 24 Ramadhan 1435 H

(Diksi telah diedit redaksi tanpa mengurangi makna)

 

Download Muhadharoh Masjid Ibnu Taimiyah Maret 2014

Beda Antara Nasehat dan Celaan

oleh : Al Ustadz Syafruddin hafizhahullah

 

Al Ustadz Syafruddin [sesi 1 ]

 

Al Ustadz Syafruddin [sesi 2 ]

ONPhotoswww.ibnutaimiyah.orgunduh

Al Ustadz Syafruddin [sesi tanya jawab ]

Oleh-Oleh dari Yaman

oleh : Al Ustadz Abu Nasiim Mukhtar bin Rifa’i  hafizhahullah

ONPhotoswww.ibnutaimiyah.orgunduh

Al Ustadz Abu Nasiim Mukhtar bin Rifa’i [Oleh-Oleh dari Yaman ]

 

Nafas Seorang Tholib “Belajar dan Berbuat”

oleh : Al Ustadz Abu Nasiim Mukhtar bin Rifa’i  hafizhahullah

ONPhotoswww.ibnutaimiyah.orgunduh

Al Ustadz Abu Nasiim Mukhtar bin Rifa’i [Sesi 1 ]

ONPhotoswww.ibnutaimiyah.orgunduh

Al Ustadz Abu Nasiim Mukhtar bin Rifa’i [Sesi 2 ]

ONPhotoswww.ibnutaimiyah.orgunduh

Al Ustadz Abu Nasiim Mukhtar bin Rifa’i [Sesi Tanya Jawab ]

Salafy Kecilku

pematang sawah

pematang sawah

“Ustadzah, gambarku sudah selesai!”. Tiba-tiba suara nyaring memecah keheningan. “Aku juga, aku juga!” yang lain pun susul-menyusul. Makhluk-makhluk kecil itu pun berhamburan, berebut menuju seorang perempuan di depan kelas yang melayani mereka dengan sabar. Ustadzah, begitu mereka memanggilnya. Senyuman ia tebarkan sembari menenangkan mereka……

Demikian kurang lebih potret keseharian sebuah taman kanak-kanak salafi dengan ujung tombak para perempuan yang akrab dengan sebutan ustadzah. Walaupun mereka sadar ilmu mereka tidak seberapa. Lelah dan letih tidak mereka hiraukan demi pendidikan generasi salafi. Ya, pendidikan generasi salafi.

Mau kita bawa kemana pendidikan generasi salafi kita?

Cita-cita apa yang ingin kita tanamkan di benak anak-anak kita?

Gantungkan cita-citamu setinggi langit?..tidak cukup!.

Tapi menjulang tinggi menggapai sorga Alloh ‘azza wa jalla.

Pendidikan kita bukan mencetak hamba-hamba dinar, bukan pula pemburu gelar tapi mencetak muwahhid mujahid sejati. Mari kita lihat pendidik terbaik yang telah berhasil mencetak generasi terbaik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala memberi wejangan kepada Ibnu Abbas: “Wahai anak muda! Jagalah Alloh niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Alloh niscaya kau akan dapati Dia dihadapanmu. Jika kau meminta, mintalah kepada Alloh. Dan jika kau meminta pertolongan, minta tolonglah kepada Alloh. Ketahuilah! jika umat ini berkumpul untuk memberimu manfaat, mereka tidak akan mampu memberimu manfaat kecuali apa yang telah Alloh tetapkan untukmu dan jika mereka berkumpul untuk menimpakan madhorot kepadamu mereka tidak akan mampu menimpakan madhorot kecuali apa yang telah Alloh tetapkan menimpamu…”. [1]

Subhanalloh!. Bayangkan para salafi kecil yang tumbuh dengan aqidah seperti itu menancap kokoh di dada-dada mereka! Generasi yang tidak mengenal takut kecuali kepada Alloh, tidak beribadah kecuali kepada Alloh. Generasi yang kokoh diatas tawakal kepada Alloh semata.

Itu semua tidak lepas dari peran seorang ustadzah. Disela-sela kesibukannya melayani keluarga tercinta, ia sempatkan berjuang mendidik generasi salafi. Mereka tidak mengenal istilah sertifikasi. Yang mereka tahu salafi kecil bisa membaca dan menulis. Yang mereka tahu salafi kecil bisa membaca Al Qur’an. Betapa mulia amalan mereka.

Wahai saudariku ikhlaskan amalanmu untuk Alloh! Dan berharaplah balasan-Nya!

Kuberi engkau kabar gembira dari Rasulullah, beliau bersabda: ” Sesungguhnya Alloh dan para malaikatnya dan penduduk langit dan bumi sampai semut dalam sarangnya dan ikan-ikan bersholawat (mendoakan dan memintakan ampunan) atas orang-orang yang mengajarkan manusia kebaikan” [2]

Besarkan harapanmu kepada Alloh dan bergembiralah tatkala salafi-salafi kecilmu tumbuh menjadi mujahid-mujahid tangguh pengibar panji dakwah salafiyah di bumi pertiwi!…biidznillahi ta’ala.

_________________________
[1] riwayat At Tirmidzi dan dishohihkan oleh Syaikh Al Wadi’i dan Syaikh Al Albani
[2] riwayat At Tirmdzi dan dihasankan syaikh Al Albani dalam Al Misykah.

ditulis oleh : Abu Harits Maos – Daarul Hadits Fyus Yaman

Penerimaan Santri Baru Ma’had Daarus Salaf Al Islamy Solo Tahun Ajaran 2014/2015

Penerimaan Santri Baru Ma’had Daarus Salaf Al Islamy Solo Tahun Ajaran 2014/2015

Pendaftaran:

-Gelombang 1: tgl 21-30 April 2014-Gelombang 2: tgl 16-21 Juni 2014

 

Gel.I test tertulis/lisanPengumumanDaftar Ulang : tgl.4 Mei 2014: 10 Mei 2014tgl 12-14Mei 2014
Gel.II testPengumumanDaftar ulang : 22 juni 2014: tgl.24 Juni 2014: tgl.25-26Juni 2014

 

Mulai masuk tgl 30 juni 2014

*Gelombang ke 2 di tiadakan apabila kuota sudah terpenuhi.

Syarat-syarat pendaftaran:

Syarat-syarat pendaftaran:

  1. Santri non asrama telah berumur 7 tahun atau telah lulus Tk/pratahfidz. Santri Asrama telah berumur 12-14 tahun pada bulan juli 2014 atau telah lulus SD/MI.
  2. Membayar Uang pendaftaran Rp.50.000,- .
  3. Calon santri harus mengikuti test.
  4. Wali calon santri harus mengikuti wawancara.
  5. Santri pindahan dari ma’had lain harus membawa surat berkelakuan baik.
  6. Bersedia menaati segala peraturan.

 

Pendaftaran dilayani melalui sms/telp:

Cp.081326666202

 

1

Download Muhadharoh AlUstadz Abu Mu’awiyyah Askari-Meniti Jejak Salafus Shalih dalam Menghadapi Bara Api Kesesatan

Meniti Jejak Salafus Shalih dalam Menghadapi Bara Api Kesesatan

Meniti Jejak Salafus Shalih dalam Menghadapi Bara Api Kesesatan

Meniti Jejak Salafus Shalih dalam Menghadapi Bara Api Kesesatan

oleh : Al Ustadz Abu Muawiyah Asykari hafizhahullah

di Masjid Nurul Huda Sumbawa

 

Al Ustadz Abu Muawiyah Asykari hafizhahullah [sesi 1 ]

Al Ustadz Abu Muawiyah Asykari hafizhahullah [sesi 2 ]

Al Ustadz Abu Muawiyah Asykari hafizhahullah [sesi 3 ]

Al Ustadz Abu Muawiyah Asykari hafizhahullah [sesi 4 ]

Al Ustadz Abu Muawiyah Asykari hafizhahullah [sesi 5 ]

Al Ustadz Abu Muawiyah Asykari hafizhahullah [sesi tanya jawab ]

Download Fawaid Umroh Asatidzah 1435H (Rabiul ‘awal – Rabiul tsani)

Bimbingan Ulama Ahlussunnah Terhadap Tahdzir Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali atas Dzulqornain bin Sunusi Al Makasari

Fawaid Umroh Asatidzah 1435H

Fawaid Umroh Asatidzah 1435H

oleh : Al Ustadz Qamar hafizhahullah

(Pertemuan dengan Syaikh Hani’ bin Buraik hafizhahullah)

Al Ustadz Qamar hafizhahullah

 

oleh : Al Ustadz Abu Abdillah Muhammad As Sarbini hafizhahullah

(Kronologis Pertemuan dengan para Masyaikh dan Menjawab Syubhat Khidir Al Makasari)

Al Ustadz Abu Abdillah Muhammad As Sarbini hafizhahullah

 

oleh : Al Ustadz Abdurrahim Pangkep hafizhahullah
(Hasil Pertemuan dengan para Masyaikh, Menjawab Syubhat Khidir Al Makasari, Persaksian Tala’ubnya Dzulqarnain dan pernyataan rujuk & taubat beliau)

Al Ustadz Abdurrahim Pangkep hafizhahullah

 

oleh : Al Ustadz Qamar Suaidi hafizhahullah

(Penajaman kronologis pertemuan dengan Syaikh Hani’ dan tanggapan terkait telekonferensi beliau dengan Dzulqarnain Al Makasari di AMWA)

Al Ustadz Qamar hafizhahullah

 

oleh : Al Ustadz Muhammad Afifuddin hafizhahullah

(Kronologis pertemuan dengan masing-masing masyaikh serta sikap akhir masing-masing ulama tersebut terhadap Dzulqarnain hadahullah)

Al Ustadz Muhammad Afifuddin hafizhahullah [sesi 1]

Al Ustadz Muhammad Afifuddin hafizhahullah [sesi 2]

 

oleh : Al Ustadz Abu Muawiyah Asykari

(Hakekat Perselisihan dan Kesimpulan Tahdzir asy Syaikh Rabi’ terhadap Dzulqarnain bin Sunusi al Makassary)

Al Ustadz Abu Muawiyah Asykari

Download Muhadhoroh Al Ustadz Abu Nasiim Mukhtar di Markiz Fuyus

Muhadhoroh Al Ustadz Abu Nasiim Mukhtar di Markiz Fuyus

oleh : Al Ustadz Abu Nasiim Mukhtar bin Rifai Lavirlas

disampaikan di: Markiz Fuyus, 14 Rabiu at-tsani 1435 H bertepatan dengan 14 februari 2014

Al Ustadz Abu Nasiim Mukhtar bin Rifai Lavirlas

Dan subhanallah dalam muhadhoroh tersebut banyak sekali hadirin yang berasal dari penduduk yaman dan selainnya banyak yang menitikan air mata karena pembahasan yang di sampaikan oleh Al Ustadz Abu Nasiim Mukhtar hafidzallahuta’ala.

Download Muhadharoh Al Ustadz Muhammad Umar Assewed “BAHAYA TA’ASHSHUB (Mewaspadai Sikap Fanatisme Buta)”

BAHAYA TA’ASHSHUB (Mewaspadai Sikap Fanatisme Buta)

oleh : Al Ustadz Muhammad Umar Assewed

disampaikan di: Masjid Ibnu Taimiyah, Ma’had Daarus Salaf Al Islamy Solo tgl 02- februari 2014

Al Ustadz Muhammad Umar Assewed[Bag.1 ahad pagi]

Al Ustadz Muhammad Umar Assewed [Bag.2 ba'da dhuhur]

Al Ustadz Muhammad Umar Assewed [Bag.3 Sabtu ba'da dhuhur tanya jawab]

Download Tausiyah Al Ustadz Muhammad Umar assewed di muntilan tema Sikap Tepat Abu Bakr as Sidiq Hadapi Fitnah

Sikap Tepat Abu Bakr as Sidiq Hadapi Fitnah

oleh : Al Ustadz Muhammad Umar Assewed

disampaikan di: Masjid Kholid bin Walid, Ma’had Minhajus Sunnah tgl 02- februari 2014

Al Ustadz Muhammad Umar Assewed

Setiap Kali Teringat Dia, Dunia Ini Terasa Tidak Ada Harganya

Setiap Kali Teringat Dia,

Dunia Ini Terasa Tidak Ada Harganya

Kisah Yang Menakjubkan Tentang Ikhlash

Setiap Kali Teringat Dia, Dunia Ini Terasa Tidak Ada Harganya

 .

Ibnul Mubarak rahimahullah menceritakan kisahnya:

“Saya tiba di Mekkah ketika manusia ditimpa paceklik dan mereka sedang melaksanakan shalat istisqa’ di Al-Masjid Al-Haram. Saya bergabung dengan manusia yang berada di dekat pintu Bani Syaibah. Tiba-tiba muncul seorang budak hitam yang membawa dua potong pakaian yang terbuat dari rami yang salah satunya dia jadikan sebagai sarung dan yang lainnya dia jadikan selendang di pundaknya. Dia mencari tempat yang agak tersembunyi di samping saya. Maka saya mendengarnya berdoa,

“Ya Allah, dosa-dosa yang banyak dan perbuatan-perbuatan yang buruk telah membuat wajah hamba-hamba-Mu menjadi suram, dan Engkau telah menahan hujan dari langit sebagai hukuman terhadap hamba-hamba-Mu. Maka aku memohon kepada-Mu wahai Yang pemaaf yang tidak segera menimpakan adzab, wahai Yang hamba-hamba-Nya tidak mengenalnya kecuali kebaikan, berilah mereka hujan sekarang.”

Dia terus mengatakan, “Berilah mereka hujan sekarang.”

Hingga langit pun penuh dengan awan dan hujan pun datang dari semua tempat. Dia masih duduk di tempatnya sambil terus bertasbih, sementara saya pun tidak mampu menahan air mata. Ketika dia bangkit meninggalkan tempatnya maka saya mengikutinya hingga saya mengetahui di mana tempat tinggalnya. Lalu saya pergi menemui Fudhail bin Iyyadh. Ketika melihat saya maka dia pun bertanya, “Kenapa saya melihat dirimu nampak sangat sedih?” Saya jawab, “Orang lain telah mendahului kita menuju Allah, maka Dia pun mencukupinya, sedangkan kita tidak.” Dia bertanya, “Apa maksudnya?” Maka saya pun menceritakan kejadian yang baru saja saya saksikan. Mendengar cerita saya, Fudhail bin Iyyadh pun terjatuh karena tidak mampu menahan rasa haru. Lalu dia pun berkata, “Celaka engkau wahai Ibnul Mubarak, bawalah saya menemuinya!” Saya jawab, “Waktu tidak cukup lagi, biarlah saya sendiri yang akan mencari berita tentangnya.”

Maka keesokan harinya setelah shalat Shubuh saya pun menuju tempat tinggal budak yang saya lihat kemarin. Ternyata di depan pintu rumahnya sudah ada orang tua yang duduk di atas sebuah alas yang digelar. Ketika dia melihat saya maka dia pun langsung mengenali saya dan mengatakan, “Marhaban (selamat datang –pent) wahai Abu Abdirrahman, apa keperluan Anda?” Saya jawab, “Saya membutuhkan seorang budak hitam.” Dia menjawab, “Saya memiliki beberapa budak, silahkan pilih mana yang Anda inginkan dari mereka?” Lalu dia pun berteriak memanggil budak-budaknya. Maka keluarlah seorang budak yang kekar. Tuannya tadi berkata, “Ini budak yang bagus, saya ridha untuk Anda.” Saya jawab, “Ini bukan yang saya butuhkan.”

Maka dia memperlihatkan budaknya satu persatu kepada saya hingga keluarlah budak yang saya lihat kemarin. Ketika saya melihatnya maka saya pun tidak kuasa menahan air mata. Tuannya bertanya kepada saya, “Diakah yang Anda inginkan?” Saya jawab, “Ya.” Tuannya berkata lagi, “Dia tidak mungkin dijual.” Saya tanya, “Memangnya kenapa?” Dia menjawab, “Saya mencari berkah dengan keberadaannya di rumah ini, di samping itu dia sama sekali tidak menjadi beban bagi saya.” Saya tanyakan, “Lalu dari mana dia makan?” Dia menjawab, “Dia mendapatkan setengah daniq (satu daniq = sepernam dirham –pent) atau kurang atau lebih dengan berjualan tali, itulah kebutuhan makan sehari-harinya. Kalau dia sedang tidak berjualan, maka pada hari itu dia gulung talinya. Budak-budak yang lain mengabarkan kepadaku bahwa pada malam hari dia tidak tidur kecuali sedikit. Dia pun tidak suka berbaur dengan budak-budak yang lain karena sibuk dengan dirinya. Hatiku pun telah mencintainya.”

Maka saya katakan kepada tuannya tersebut, “Saya akan pergi ke tempat Sufyan Ats-Tsaury dan Fudhail bin Iyyadh tanpa terpenuhi kebutuhan saya.” Maka dia menjawab, “Kedatangan Anda kepada saya merupakan perkara yang besar, kalau begitu ambillah sesuai keinginan Anda!” Maka saya pun membelinya dan saya membawanya menuju ke rumah Fudhail bin Iyyadh.

Setelah berjalan beberapa saat maka budak itu bertanya kepada saya, “Wahai tuanku!” Saya jawab, “Labbaik.” Dia berkata, “Jangan katakan kepada saya ‘labbaik’ karena seorang budak yang lebih pantas untuk mengatakan hal itu kepada tuannya.” Saya katakan, “Apa keperluanmu wahai orang yang kucintai?” Dia menjawab, “Saya orang yang fisiknya lemah, saya tidak mampu menjadi pelayan. Anda bisa mencari budak yang lain yang bisa melayani keperluan Anda. Bukankah telah ditunjukkan budak yang lebih kekar dibandingkan saya kepada Anda.” Saya jawab, “Allah tidak akan melihatku menjadikanmu sebagai pelayan, tetapi saya akan membelikan rumah dan mencarikan istri untukmu dan justru saya sendiri yang akan menjadi pelayanmu.”

Dia pun menangis hingga saya pun bertanya, “Apa yang menyebabkanmu menangis?” Dia menjawab, “Anda tidak akan melakukan semua ini kecuali Anda telah melihat sebagian hubunganku dengan Allah Ta’ala, kalau tidak maka kenapa Anda memilih saya dan bukan budak-budak yang lain?!” Saya jawab, “Engkau tidak perlu tahu hal ini.” Dia pun berkata, “Saya meminta dengan nama Allah agar Anda memberitahukan kepada saya.” Maka saya jawab, “Semua ini saya lakukan karena engkau orang yang terkabul doanya.” Dia berkata kepada saya, “Sesungguhnya saya menilai –insya Allah– Anda adalah orang yang saleh. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memiliki hamba-hamba pilihan yang Dia tidak akan menyingkapkan keadaan mereka kecuali kepada hamba-hamba-Nya yang Dia cintai, dan tidak akan menampakkan mereka kecuali kepada hamba yang Dia ridhai.” Kemudian dia berkata lagi, “Bisakah Anda menunggu saya sebentar, karena masih ada beberapa rakaat shalat yang belum saya selesaikan tadi malam?” Saya jawab, “Rumah Fudhail bin Iyyadh sudah dekat.” Dia menjawab, “Tidak, di sini lebih saya sukai, lagi pula urusan Allah Azza wa Jalla tidak boleh ditunda-tunda.” Maka dia pun masuk ke masjid melalui pintu halaman depan.

Dia terus mengerjakan shalat hingga selesai apa yang dia inginkan.

Setelah itu dia menoleh kepada saya seraya berkata, “Wahai Aba Abdirrahman, apakah Anda memiliki keperluan?” Saya jawab, “Kenapa engkau bertanya demikian?” Dia menjawab, “Karena saya ingin pergi jauh.” Saya bertanya, “Ke mana?” Dia menjawab, “Ke akherat.” Maka saya katakan, “Jangan engkau lakukan, biarkanlah saya merasa senang dengan keberadaanmu!” Dia menjawab, “Hanyalah kehidupan ini terasa indah ketika hubungan antara saya dengan Allah Ta’ala tidak diketahui oleh seorang pun. Adapun setelah Anda mengetahuinya, maka orang lain akan ikut mengetahuinya juga, sehingga saya merasa tidak butuh lagi dengan semua yang Anda tawarkan tadi.” Kemudian dia tersungkur sujud seraya berdoa, “Ya Allah, cabutlah nyawaku agar aku segera bertemu dengan-Mu sekarang juga!” Maka saya pun mendekatinya, ternyata dia sudah meninggal dunia. Maka demi Allah, tidaklah saya mengingatnya kecuali saya merasakan kesedihan yang mendalam dan dunia ini tidak ada artinya lagi bagi saya.”

(Al-Muntazham Fii Taarikhil Umam, karya Ibnul Jauzy, 8/223-225)

Sumber artikel: http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=140725

Diterjemahkan oleh: Abu Almass bin Jaman Al-Ausathy

17 Rabi’ul Awwal 1435 H

Daarul Hadits – Ma’bar – Yaman