Di Bawah Langit Mahwit

Di Bawah Langit Mahwit

 Oleh : Al Ustadz Abu Nasiim Mukhtar ‘iben‘ Rifa’i La Firlaz

.

“Rasa-rasanya, bintang di langit cerah justru nampak lebih indah saat ia berkelap-kelip. Kadang cahayanya menguat, terkadang meredup… Subhaanallah !” (Kamis Malam, 13 Juni 2013, 22.19.43)

.

Mahwit, Yaman

Mahwit, Yaman

.

Kata-kata di atas adalah bunyi SMS yang ana kirimkan kepada beberapa kawan di Yaman. Begitulah… Kata-kata seakan menjadi sahabat ana yang paling bisa mengerti dan memahami rindu. Menulis surat semacam ini pun –bagi ana– menjadi obat dan penawar rindu. Derasnya rindu yang mengalir di hati membutuhkan hilir sebagai muaranya dan kata-kata adalah laut lepasnya…

Salah seorang ikhwan di Shan’a asal Lombok bernama Haidar menjawab SMS tersebut,

“Bintang gemintang adalah bintang Allah. Awan gemawan adalah awan Allah. Semoga yang kerlap itu, kerlap penuh semangat untuk beramal. Semoga redup itu menyimpan bara ikhlas nan membara”

Malam itu… ana sedang berbaring menatap langit cerah di atas selembar selimut beralaskan karpet tipis di halaman sebuah masjid. Heningnya malam yang menyimpan ketenangan masih bisa ana rasakan ketika menulis surat ini. Baarakallahufiik…

.

Seorang kawan Yaman yang berasal dari sebuah propinsi bernama Mahwit rupanya tertarik mengajak ana untuk menengok kampung halamannya. Wah… tawaran yang sangat tidak mungkin untuk ana tolak. Ana sangat tertarik untuk jalan-jalan menembus batas-batas wilayah…

Kamis pagi 13 Juni 2013, kami bergerak meninggalkan pondok Dzamar dengan mengendarai sebuah bis berukuran sedang. Perjalanan selama empat jam dihiasi dengan relief-relief alam yang sangat menakjubkan. Hampir tidak ada jalan dengan trap lurus. Berkelok-kelok dengan sudut sempit membuat badan bergeser ke kanan dan ke kiri. Sketsa alam berupa pegunungan batu dan jurang-jurang curam mengingatkan ana tentang tamasya bersama keluarga ke Dataran Tinggi Dieng.

Sebenarnya mata agak berat untuk diangkat…, alis mata inginnya beristirahat sejenak. Namun apa daya, kesempatan emas seperti ini eman-eman untuk dilewatkan begitu saja. Sungguh… empat jam perjalanan itu sangat berkesan. Negara Yaman yang hanya terdiri dari 26.000.000 jiwa dengan bentangan wilayahnya yang luas membuat jarak antar desa yang ana lalui sangat berjauhan.

Pikir ana… empat jam perjalanan itu sudah cukup untuk mengantarkan ana sampai ke kampung halaman kawan itu. Ternyata… belum! Kami harus mengendarai mobil khusus yang memang dikenal tangguh di medan bukit-bukit berbatu. Sebuah jeep merk Toyota yang sudah berumuran empat puluh tahun rupanya cukup setia menggendong kami menuju tujuan.

Tidak ada secenti pun jalan menuju kampung halamannya yang beraspal. Seluruh lintasan jalan dari tanah kasar penuh batu dan tidak rata. Lubang-lubang adalah sahabat akrab ban mobil Toyota itu. Kurang lebih setengah jam kami melintasi jalan-jalan berbatu yang penuh goncangan menyenangkan itu.

Kira-kira sejarak dua sampai tiga kilometer, kami melintasi padang kaktus yang hampir berbuah –buahnya manis loh–. Sejauh mata memandang adalah pohon-pohon kaktus yang seakan mengucapkan salam kedatangan untuk kami. Pohon kaktus hanyalah satu dari banyak jenis pepohonan dan tetumbuhan yang agak menghijaukan gunung dan padang berbatu di Yaman. Seluruhnya adalah pohon-pohon berduri dengan ciri khas batangnya yang keras.

Subhaanallah!

Ana salah sangka lagi untuk yang kedua kalinya! Sesampainya di pemberhentian mobil terakhir, kami harus menggunakan motor berkopling buatan Cina –motor-motor di sini memang buatan Cina– untuk melanjutkan perjalanan menuju kampung halaman sang kawan.

Kampung-kampung badui! Luar biasa sekali! Pukul lima sore barulah kami benar-benar sampai. Alhamdulillah.

 

Kesederhanaan Kaum Badui

Kampung badui tempat kami beristirahat bernama Shanif. Kampung Shanif hanyalah sebuah kampung dari kumpulan kampung-kampung badui lainnya yang menginduk ke sebuah kabilah besar bernama Bani Sa’ad. Jarak antar kampung paling tidak satu kilometer. Padahal tiap-tiap kampung hanya berpenduduk seratus jiwa.

Di kampung Shanif, ana banyak belajar tentang kesederhanaan dan kebersahajaan.

Ternyata selama ini ana kurang-kurang bersyukur… Barangkali –seumur hidup– hanya beberapa kali saja ana pernah berucap Alhamdulillah dengan tulus dari dasar hati. Selain itu Alhamdulillah Alhamdulillah lainnya hanyalah terucap sebagai penghias bibir saja. Ya Allah… ternyata begitu banyak nikmat yang telah Engkau curahkan untuk kami. Ya Rahman… ternyata selama ini kami hidup dalam kelalaian. Ya Ghafuur… ternyata selama ini hambaMu terlalu sering mengeluh dan mengeluh…

Bayangkan saja…

Rumah-rumah mereka hanya tersusun dari batu-batu gunung tanpa semen atau cairan perekat lainnya. Atap rumah mereka adalah tumpukan ranting-ranting yang dianyam rapi di antara dahan-dahan pohon. Lantai rumah? Oh… begitu apa adanya. Lantai rumah mereka adalah hamparan bumi sebagaimana halaman rumah mereka.

Dalam setahun hanya beberapa kali saja hujan ditumpahkan dari langit. Tangki-tangki air (yang berisi dua atau tiga kali ukuran bak kamar mandi kami di Gang Nusa Indah) terlihat di halaman setiap rumah di kampung tersebut. Namun sekali isi tangki setara dengan harga sebesar 5.000 Real Yaman (Rp 250.000).

Masya Allah!

Bak kamar mandi kami di Gang Nusa Indah barangkali dalam sehari semalam bisa habis dipakai, sementara mereka bisa menggunakannya sampai berapa lama? Ana berpikir, sudah berapa kali 250.000 rupiah ana pakai untuk membasahi tubuh ini?

Tiap-tiap rumah mempunyai ayam, kambing, sapi dan unta untuk digembalakan. Jumlahnya bisa mencapai ratusan ekor. Tiap pagi menjelang, anak-anak mereka keluar menuju lereng gunung dan lembah untuk mengawal hewan-hewan gembalaan. Sore hari mereka pulang ke rumah masing-masing.

Ana sempat diajak kawan untuk menengok Pasar Desa… Subhaanallah! Pasar?? Pasar desa hanya terdiri dari beberapa bangunan toko sederhana. Selainnya hanyalah gubuk-gubuk kecil seperti pos ronda milik RT kami di Karang Baru. Ya Allah… berarti selama ini Engkau telah mencurahkan nikmat tak terhingga kepada kami.

 .

Pancaran Suka Cita

Wajah-wajah yang nampak tak terawat dan nilai-nilai perjuangan mereka yang tak kenal lelah dalam menjalani kehidupan, ternyata belum cukup untuk menutup pancaran bahagia… Benar… Walaupun hidup dalam kesederhanaan seperti itu, senyum mereka terlihat tulus dan lepas. Tawa mereka begitu renyah dan menyenangkan. Apalagi tamu mereka berasal dari Indonesia… Jauuuuh sekali, kata mereka.

Dalam hati ana tergores sebuah luka kecil setelah bertemu dengan mereka. Ana sangat-sangat iri dengan mereka…Hidup mereka adalah hidup apa adanya. Selain itu adalah ibadah dan ibadah. Tidak ada kesibukan lainnya. Tidak ada waktu untuk pusing dan bingung memikirkan urusan dunia.

Bagaimana dengan ana?

Walaupun kita tidak terlibat…, namun setiap hari kita disuguhi oleh informasi-informasi yang menyesakkan dada. Pertarungan di panggung politik, pembunuhan dan perampokan, pemerkosaan dan pelecehan seksual, korupsi dan kolusi…dan masih banyak lagi hal-hal membosankan lainnya.

Dunia ini memang telah tua umurnya. Sesaat lagi hari kiamat dibangkitkan. Ana teringat kembali dengan sebuah sabda Rasulullah (hadits Abu Sa’id riwayat Bukhari),

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ، خَيْرُ مَالِ الرَّجُلِ المُسْلِمِ الغَنَمُ، يَتْبَعُ بِهَا شَعَفَ الجِبَالِ وَمَوَاقِعَ القَطْرِ، يَفِرُّ بِدِينِهِ مِنَ الفِتنِ

“Akan tiba masanya nanti untuk umat ini,harta terbaik yang dimiliki oleh seorang muslim adalah kambing-kambing. Ia menggembalakannya di lereng-lereng gunung dan titik-titik hujan. Ia lari dari fitnah demi menyelamatkan agamanya”

 

Malam Selepas Isya’

Selepas shalat Isya’ dan makan malam yang sederhana… Roti-roti gandum yang dimasak dengan kayu bakar adalah santapan pokoknya. Minyak samin yang dipadu dengan susu sapi adalah lauknya. Ada juga semacam sayur yang terbuat dari potongan-potongan kentang dan tomat. Sebagai penutup secangkir teh panas dan kental menambah lengkap pengalaman ana di Propinsi Mahwit.

Tidak ada listrik!

Mesin genset barangkali hanya sebuah saja untuk tiap-tiap kampung. Untuk keperluan listrik mereka menggunakan aki-aki besar yang diisi jasa pengisian batere aki di kota.

Malam itu benar-benar berkesan…

Tidak ada rumah yang bisa menampung tamu… Pilihannya adalah halaman masjid. Sebenarnya bisa saja tidur malam di dalam masjid… Namun daerah Mahwit adalah daerah panas sangat… Jika memaksakan diri tidur di dalam masjid, bisa jadi bangun-bangun Shubuh sudah banjir keringat.

Ada tiga orang yang menemani ana malam itu… Dua orang anak muda, yang seorang sudah cukup tua… Cukup berselimutan sarung cap Gajah Duduk, ana menikmati malam itu… Sangat sulit untuk memejaman kedua mata ini.

Tak henti-hentinya ana memandang dan mengagumi keindahan langit… Suasana gelapnya malam, sketsa gunung-gunung di sekeliling kampung, juga suara-suara hewan malam semakin menambah syahdunya suasana.

Di saat itulah Ana menulis SMS di atas,

“Rasa-rasanya, bintang di langit cerah justru nampak lebih indah saat ia berkelap-kelip. Kadang cahayanya menguat, terkadang meredup… Subhaanallah!” (Kamis Malam, 13 Juni 2013, 22.19.43)

Subhaanaallah!

Sudah sekian lama Ana merindukan ketenangan dan ketentraman semacam ini… Hati sejuuuuuk sekali… Bayangan entah terbang ke sana dan ke mari… Inilah pilihan Allah untuk hamba-hamba Nya… Dan itulah yang terbaik!

Ana pun yakin bahwa kita dipilihkan Allah untuk hidup di belahan bumi yang sangat bertolak belakang dengan suasana kampung-kampung badui ini… Pasti karena hikmah yang agung… Ana yakin bahwa seandainya kita pun hidup seperti mereka di kampung-kampung badui ini, belum tentu menjadi baik untuk kita… Apa yang Allah pilihkan untuk kita itulah yang terbaik!

Hanya saja sesekali kita memang perlu merenung dan bertafakkur… agar mampu menjadi hamba yang bersabar dan bersyukur… Ternyata masih banyak saudara-saudara kita (dalam hal materi dan dunia)… yang tarafnya berada di bawah kita… Walaupun bisa jadi mereka lebih bisa merasakan bahagia dibandingkan kita yang diuji dengan limpahan nikmat dari Allah.

Ya Allah mudahkanlah kami untuk menjadi hamba-hamba Mu yang selalu bersyukur dan bersabar…

 .

_saudara Antum

_abu nasiim mukhtar “iben” rifai_helga la firlaz

_dzamar, yemen_17 Juni 2013_20.55 WIY

_sedang berdomisil di Kerajaan Rindu_

(Catatan : balasan surat Ustadzuna kepada salah seorang ikhwah Solo. Telah diedit redaksi ibnutaimiyah.org tanpa mengurangi makna)

Apa Setelah Ramadhan?

Apa Setelah Ramadhan?

Oleh : Asy Syaikh Khalid ibn Dhahfy Adz Dzafiry

.

Apa setelah Ramadhan?

.

Nasihat Asy Syaikh Khalid ibn Dhahfy Azh Zhafiri saat mengisi khutbah Juma’t di Masjid Sa’idiy di Jahra Kuwait pada hari Jum’at, 5 Syawal 1435 H.

Sumber audio :

Unduh di sini.

Khutbah Idul Fitri 1435 H Asy Syaikh Khalid Dhahfy Adz Dzafiry

Khutbah Idul Fitri 1435 H Asy Syaikh Khalid Dhahfy Adz Dzafiry

.

Khutbah Idul Fithri 1435 H Asy Syaikh Khalid Dhahfy Adz Dzafiry

.

Khutbah Idul Fitri 1 Syawal 1435 H oleh Asy Syaikh Khalid ibn Dhahfy Adz Dzafiry.

 

Sumber audio : http://ar.miraath.net/audio/9387/1435

Unduh di sini.

Khutbah Idul Fitri 1435 H Ma’had Darus Salaf

Khutbah Idul Fitri 1435 H Ma’had Darus Salaf

.

Khutbah Idul Fithri 1435

.

Khutbah Idul Fitri 1 Syawal 1435  H (28 Juli 2014) oleh Al Ustadz Fauzan hafidzahullah .

 

Unduh di sini.

Nasihat Akhir Ramadhan 1435 H

Nasihat Akhir Ramadhan 1435 H

Oleh : Asy Syaikh Khalid ibn Dhahfy Azh Zhafiry

.

Nasihat Akhir Ramadhan 1435 H

Nasihat Akhir Ramadhan 1435 H oleh Asy Syaikh Khalid Azh Zhafiri saat mengisi khutbah Juma’t di Masjid Sa’idiy di Jahra Kuwait pada hari Jum’at, 27 Ramadhan 1435 H.

.

Sumber : http://ar.miraath.net/audio/9378
Unduh audio di sini.

Luwes Bagaikan Air

Luwes Bagaikan Air

Oleh : Al Ustadz Abu Nasiim Mukhtar ibn Rifa’i La Firlaz

 .

Allah Tidak Akan Membebani Di Luar Batas Kemampuan Hamba

Luwes Bagaikan Air

Saat ujian dan cobaan datang menghampiri, seringkali kita menganggap bahwa kitalah orang yang paling berat cobaannya. Seolah-olah cobaan yang sedang dialami oleh orang lain masih belum seberapa dibandingkan dengan cobaan yang kita rasakan. Kita menilai orang lain hidup dalam kesenangan dan kebahagiaan, sementara hanya kita yang tersiksa dan menderita oleh cobaan.

Prasangka semacam itu salah, wahai Saudaraku!

Jika saja kita mau jujur, masih banyak orang lain yang lebih berat cobaannya. Boleh jadi cobaan yang sedang dialami oleh orang lain tidak mampu kita hadapi. Lima panca indera yang berfungsi dengan baik pada tubuh kita saja merupakan nikmat yang tiada tara. Apa jadinya bila fungsi kelima panca indera kita hilang?

Nas’alullahas salaamah…

Pernahkah terbayang jika kita hidup dalam keadaan buta? Tak mengenal wajah dan rupa? Tidak bisa menikmati keindahan cakrawala dunia? Tidak mampu merasakan romantisnya matahari di kala senja? Bintang gemerlap di ruang angkasa? Gunung, bukit, sungai dan awan di langit sana?

Alhamdulillah, kita masih bisa melihat orang yang kita cinta dengan kedua mata. Syaithan sengaja membisik-bisikkan ke dalam jiwa manusia. Syaithan berusaha membuat manusia cepat putus asa. Syaithan tidak pernah mengenal lelah untuk mengalihkan perhatian manusia dari ibadah. Sungguh! Saat kita sedang diuji dengan cobaan –apapun bentuknya–, syaithan berusaha menghilangkan kekhusyu’an di dalam beribadah.

Bukankah sering kita merasakan shalat seolah tanpa makna? Tak terasa, takbiratul ihram di awal shalat tiba-tiba telah berubah menjadi salam ke kanan dan ke kiri. Surat apa yang kita baca tadi? Lupa… Konsentrasi kepada Pencipta berubah menjadi tamasya dalam masalah di kepala yang melarutkan makna shalat…

Apapun cobaan yang ditetapkan oleh Allah untuk seorang hamba, yang pasti tidak akan melebihi batas kemampuannya.

لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا

.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (QS. 2:286)

Hidup di dunia ini dibuat mudah saja. Lapang-lapangkanlah dada dan berusahalah untuk selalu tersenyum. Lakukan kebaikan dan jauhi keburukan. Allah tidak akan menyia-nyiakan amalan seorang hamba.

.

Allah Tidak Mungkin Mempersulit Hamba

Cobaan memang tidak mungkin terlepas dari setiap langkah anak manusia. Cobaan itu pasti selalu ada. Justru dengan cobaan, kualitas iman seorang hamba akan terasah. Tanpa cobaan, bagaimana mungkin seorang hamba bisa membuktikan kualitas imannya? Oleh sebab itu, cobaan yang dialami oleh para nabi dan rasul berkali-kali lipat lebih berat dibandingkan yang lain.

Silahkan saja kita membaca sejarah kehidupan para nabi. Surat Al Anbiya’ misalnya… Coba longgarkan waktu, cari kesempatan untuk merenungi ayat pertama sampai ayat terakhir dari surat Al Anbiya’. Pergunakan Al Qur’an terjemah agar lebih mudah… Pilih waktu yang lapang. Berdua dengan istri juga lebih baik…

Coba dan rasakan sensasinya!

Salah satu ibrah dari membaca kisah-kisah para nabi adalah kita akan menyadari bahwa cobaan yang Allah berikan untuk kita masih terlalu ringan jika dibandingkan dengan yang dirasakan oleh mereka.

Ini contoh kecilnya!

Nabi Muhammad jika jatuh sakit, panas tubuh karena demam yang beliau rasakan dua kali lipat dari demam yang dirasakan orang biasa. Padahal jika kita demam, berapa kali keluhan tertahan yang keluar dari mulut seorang pasien… Antum pasti lebih paham.

Ambil sisi positifnya dari setiap cobaan yang ada. Yakinlah bahwa di balik setiap cobaan pasti ada hikmah yang mendalam. Ingat-ingatlah selalu bahwa Allah menghendaki kemudahan untuk kita! Jangan lupa, Allah tidak ingin mempersulit hamba Nya! Ikhlas menerima dengan tetap terus berusaha adalah pilihan yang terbaik!

يُرِيدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (QS. 2:185)

.

Syukur dan Sabar, Konsep Sederhana yang Harus Diaplikasikan

Dalam sebuah kesempatan, Nabi Muhammad memotivasi para sahabat agar tegar di dalam menghadapi kehidupan dunia. Beliau membimbing kita untuk mengaplikasikan sebuah konsep sederhana di dalam keseharian. Konsep beliau tentu sempurna dan pasti bermakna. Bahkan nabi Muhammad menyebut konsep ini sebagai watak dan karakter seorang hamba yang mukmin.

Beliau bersabda (Muslim dari hadits Shuhaib bin Sinan),

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

.

Benar-benar menakjubkan kehidupan orang mukmin! Semua urusannya selalu berbuah kebaikan untuk dirinya! Hal ini tidak mungkin diraih kecuali oleh hamba yang mukmin. Jika merasakan kesenangan, ia bersyukur. Dan bersyukur itu adalah kebaikan untuk dirinya. Jika ditimpa kesulitan, ia bersabar. Dan bersabar itu adalah kebaikan untuk dirinya

Luar biasa sekali motivasi dari Rasulullah di atas!

Indah sekali kehidupan seorang mukmin. Dari satu garis kebaikan menuju garis kebaikan selanjutnya. Ia selalu berpindah-pindah dari satu wilayah pahala menuju wilayah berpahala lainnya. Prinsip hidupnya tidak lepas dari dua sikap agung : bersyukur dan bersabar.

Nah, pada saat seorang hamba ditimpa cobaan, ia pun harus mengedapankan sikap syukur dan sabar. Bersyukur karena telah terhindar dari cobaan yang lebih berat. Bersyukur karena Allah akan memberikan pahala di balik setiap cobaan. Bersyukur karena Allah telah menunjukkan cinta Nya dengan menegur kita melalui cobaan tersebut. Bersyukur dan bersyukur serta terus bersyukur.

Bersabar karena semua cobaan telah ditetapkan Allah sejak 50.000 tahun sebelum langit dan bumi diciptakan. Bersabar karena Allah tidak akan membebani di luar batas kemampuan hamba. Bersabar karena Allah mencintai 0rang-orang yang bersabar. Bukankah kita ingin menjadi hamba yang dicintai Allah?

.

Allah Maha Tahu dan Maha Hikmah

Sudah watak manusia untuk selalu berangan-angan. Setiap waktu yang berlalu pasti muncul khayalan dan angan-angan. Aku ingin begini aku ingin begitu… Hari ini aku berbuat ini, besok lain lagi… Bulan depan rencananya seperti ini, bulan berikutnya kita sudah mereka-reka rencana selanjutnya. Bahkan kita punya angan-angan untuk hari tua…

Namun kita terkadang lupa bahwa semuanya bukan kita yang mengatur. Allah yangmemiliki hak mutlak untuk mengatur segala-galanya. Akan tetapi hal ini tidak lantas dijadikan alasan untuk berdiam diri. Hidup tanpa usaha, ikhtiar dan semangat. Bukan! Tentu bukan!

Sebab, Allah pun memerintahkan kita untuk selalu berusaha dan tak kenal lelah. Allah juga melarang kita untuk berputus asa. Allah senang jika kita meminta dan berdoa kepada Nya. Semakin kita sering meminta, Allah semakin cinta. Semakin banyak kita meminta, Allah semakin sayang. Tidak ada yang sulit bagi Allah, semuanya mudah…

Namun, kita pun harus menyadari dengan ridha dan ikhlas, bahwa keputusan akhir ada di tangan Allah. Jika saja semua usaha dan upaya yang telah kita lakukan tidak menghasilkan sesuatu yang kita impikan, tidak perlu sedih dan patah hati. Jangan berprasangka buruk kepada Allah! Barangkali Allah telah mempersiapkan balasan yang lebih baik daripada yang kita minta…

Sebuah ayat termaktub indah di penghujung surat Al Insan. Ayat tersebut menggambarkan sedikit yang Ana uraikan di atas. Ayat tersebut semakin terasa indah lagi sebab Allah menutupnya dengan dua nama Nya yang mulia.

Allah berfirman,

وَمَاتَشَآءُونَ إِلآ أَن يَشَآءَ اللهُ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Luas Hikmah Nya. (QS. 76:30)

Maha suci Engkau, ya Allah… Engkau adalah Dzat yang maha mengetahui lagi maha luas hikmah Nya. Demi Allah.., Allah maha mengetahui apa yang kita butuhkan. Allah memberikan yang terbaik untuk kita menurut Nya, sesuai dengan hikmah Nya. Sungguh.., apapun yang Allah berikan untuk kita, maka yakinlah bahwa keputusan Nya adalah yang terbaik untuk kita.

Keputusan Allah adalah yang terbaik untuk kita!

.

Belajar dan Berlatih

Konsep hidup bahagia menurut Islam sebenarnya sederhana-sederhana saja. Akan tetapi, sifat dasar manusia yang dipenuhi dengan kejahilan, kedzaliman, banyak protes, senang mengeluh dan kikir membuat konsep-konsep tersebut perlu dipelajari dan dilatih. Untuk menuju sebuah puncak memang diperlukan anak-anak tangga dan jalan setapak.

Kita memang harus belajar dan berlatih untuk menjadi hamba yang pandai bersyukur. Mulailah dari hal-hal kecil dan sepele di sekitar kita. Perjalanan dari rumah ke tempat kerja, setelah sampai ucapkan Alhamdulillah. Setelah makan gorengan dan minum es teh Campool ucapkan Alhamdulillah. Baru saja mengantar istri ke tempat taklim ucapkan Alhamdulillah… Dan seterusnya.

Belajar dan berlatih!

Kita memang harus belajar dan berlatih untuk menjadi hamba yang penuh sabar. Jika ada yang menyinggung perasaan kita, bersabarlah karena masih banyak cobaan yang lebih berat dari itu. Jika kehilangan uang 1.000 rupiah, bersabarlah sebab masih ada orang yang mengalami kecurian sampai berjuta-juta. Apabila makanan kurang tepat bumbunya, bersabarlah karena masih banyak orang yang kesulitan makan. Dan seterusnya.

Pokoknya belajar dan berlatih! Dari hal-hal ringan dan sepele hingga akhirnya kita mampu meraih predikat hamba yang bersyukur dan bersabar dalam kondisi apapun. Allahumma yassiril umuur..

.

Luwes Bagaikan Air

Sengaja Ana pilihkan judul Luwes Bagaikan Air untuk tulisan ini. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, luwes diartikan dengan tidak kaku, tidak canggung, mudah disesuaikan. Air pun seperti itu… Air sangat mudah menyesuaikan dengan ruang. Jika ruangnya kecil, air pun akan mengecil. Apabila ruangnya besar, air pun demikian. Air bisa mengikuti aliran sungai apapun bentuknya… Cekung, cembung, bercelah sempit bahkan pori-pori tanah bisa ditembus oleh air.

Entah kenapa, dari dulu Ana sangat tertarik untuk memperhatikan air. Di dalam Al Qur’an, air disebutkan sampai berpuluh-puluh kali dengan pembahasan masing-masing. Oleh sebab itu, Ana selalu ingin meniru air… Ketenangannya, manfaat dan fungsinya, kekuatan dan kekokohan, keluwesannya juga kelembutannya. Wallahu a’lam

Mungkin sedikit saja yang bisa Ana lakukan untuk Antum,Mas.Tidak lebih dari susunan kata yang belepotan. Tidak mengandung makna sastra atau makna pujangga. Namun, paling tidak tulisan ini adalah bukti bahwa Antum telah mengambil tempat tersendiri di dalam hati Ana.

Salam rindu, Salam Thalabul Ilmi!

Semangat dan Sukses!

_saudara kecil di kamar kecil

_14.39,25 Maret 2013

_Abu Nasiim Mukhtar “iben”Rifai_Helga  La Firlaz_

Cat: (Inti surat beliau kepada salah seorang Ikhwah di Solo)

Masalah Ziyarah Pada Hari Raya

Masalah Ziyarah pada Hari Raya

Oleh : Asy Syaikh Muqbil ibn Hadi Al Wadi’i Rahimahullah

.

 Masalah Ziyarah pada Hari Raya

.

Bagian 1

Penanya:

Kapankah dimulai waktu mengucapkan selamat pada hari raya, dan sampai kapan hari hari raya berlangsungnya hari raya dan ucapan selamat tersebut?

Jawab:

Tentang mengucapkan selamat saya tidak mengetahui sedikit pun dalil pada masalah tersebut, namun tidak masalah manusia saling menyampaikan ucapan selamat pada hari raya disebabkan kebaikan yang mereka dapatkan. Dan diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi was sallam bahwasanya beliau bersabda tentang Idul Fithri:

.

وَلِتُكَبِّرُوْا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ

“Agar kalian bertakbir mengagungkan Allah atas hidayah-Nya kepada kalian.”

.

Tetapi yang dimaksud bukan ini. Sama sekali tidak ada riwayat yang shahih bahwa yang dimaksud adalah semacam ucapan selamat. Namun jika manusia saling menyampaikan ucapan selamat maka hal itu tidak masalah insya Allah, tidak sampai pada batasan bid’ah. Dan di sana tidak ada penentuan waktu atau pembatasan. Tetapi yang dilakukan oleh manusia dan kesibukan mereka dengan melakukan ziyarah pada hari raya tidak ada dalilnya. Yaitu apa yang dilakukan sejak pagi hari raya hingga maghrib, demikian juga pada hari kedua, hari ketiga dan seterusnya (–kalimat  kurang jelas–) Ini adalah perkara yang tidak dalilnya. Wallahul musta’an.

Sumber audio: http://www.ajurry.com/vb/attachment.php?attachmentid=30140&d=1373842374

 

Bagian 2

Penanya: 

Apa hukum mencium pipi pada hari tersebut (hari raya) dan ucapan sebagian orang: “Kulla aamin wa antum bikhair (semoga engkau dalam keadaan baik sepanjang tahun)” dan “Taqaballahu…” dan yang semisalnya?

Jawaban:

Adapun mencium pipi maka hal ini tidak ada riwayatnya, namun jika khawatir fitnah maka wajib meninggalkan, yaitu hukumnya haram jika khawatir fitnah, seperti mencium anak muda yang belum tumbuh jenggotnya dan dia khawatir terfitnah dengannya, sehingga wajib untuk meninggalkannya. Yang memungkinkan adalah berjabatan tangan. Rasul shallallahu alaihi was sallam bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَيْنِ إِذَا الْتَقَيَا وَتَصَافَحَا وَصَلَّيَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَقَطَتْ ذُنُوْبُهُمَا وَمُحِيَتْ ذُنُوْبُهُمَا.

.

“Sesungguhnya dua orang jika bertemu, berjabat tangan, dan bershalawat untuk Nabi shallallahu alaihi was sallam, maka gugurlah dosa keduanya dan dihapus.”

.

Ini perkara pertama. Perkara yang lain adalah bahwasanya tidak ada dalil tentang pengkhususan hari raya dengan mencium wajah atau tangan.
Dan juga tidak ada pengkhususan ziyarah dari Nabi shallallahu alaihi was sallam pada hari raya.

Yang jelas ya ikhwah, hari raya khususnya Idul Adha adalah hari yang penuh barakah. Rasul shallallahu alaihi was sallam bersabda tentang hari-hari tasyriq:

أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرِ اللهِ.

.

“Hari-hari untuk makan, minum dan berdzikir mengingat Allah.”

Yaitu hari kedua, ketiga, dan keempat setelah Idhul Adha. Jadi hari-hari ini adalah hari-hari untuk makan, minum dan berdzikir mengingat Allah. Hanya saja sebagian manusia ada yang pergi dari rumah ke rumah.

Dan yang lebih buruk dari hal semacam ini adalah terkadang ada yang berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram.

Sumber audio dan transkrip : http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=30603

Alih bahasa: Abu Almass
Sabtu, 28 Ramadhan 1435 H

Hukum Zakat Fitrah

Hukum Zakat Fitrah

.

Hukum Zakat Fitrah

.

Kajian tentang Hukum Zakat Fitrah oleh Asy Syaikh Khalid Azh Zhafiri di Masjid Sa’idiy di Jahra Kuwait pada hari Kamis, 26 Ramadhan 1435 H.

.

Sumber : http://ar.miraath.net/audio/9376

Unduh audio di sini.

Berkunjung kepada Karib Kerabat pada Hari ‘Idul Fithri

Berkunjung kepada Karib Kerabat pada Hari ‘Idul Fithri

Oleh : Asy Syaikh Muhammad bin Hadi Al Madkhali hafizhahullah

.

Berkunjung kepada Karib Kerabat pada Hari ‘Idul Fithri

.

Unduh Audio di sini.

.

Pertanyaan :

Apa hukum mengkhususkan berkunjung kepada karib kerabat dan teman-teman pada hari ‘Id (Idul Fithri -pent)?

Jawab :

Ini amalan yang bagus. Karib kerabat adalah orang-orang yang paling berhak untuk kita menyambung silaturrahmi dengan mereka. Karena mereka adalah orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan (dengan kita). Mereka adalah orang yang paling berhak, maka mulailah dari mereka, kemudian setelah itu orang-orang yang selain mereka.

.

Ini merupakan hal yang dituntut, yaitu seseorang memulainya dengan karib kerabat. Karena karib kerabat adalah orang yang paling kuat/besar haknya dibanding selainnya. Maka ketika itu, hendaknya berbuat baik kepada mereka dulu. Kemudian setelah itu, apabila didapati waktu lain, maka bisa mengunjungi saudara-saudaranya (yang lainnya).

.

Jika itu bisa terwujud, maka Alhamdulillah. Jika tidak terwujud, maka itu bukanlah sunnah pada kesempatan tersebut. Namun mencukupkan mencukupkan bertemu dengan mereka di mushalla (tempat shalat ‘Id), juga dengan bertemu dengan mereka di masjid, pada shalat lima waktu. Jika ini terwujud maka cukup, Alhamdulillah.

.

Tidak dipersyaratkan engkau pergi ke rumahnya. Namun hal ini telah menjadi adat. Sedangkan adat ini tidaklah bertentangan dengan syari’at, dan mereka (muslimin) tidak meyakini ini sebagai ibadah. Hal itu karena, hari itu (Hari ‘Idul Fithri, pen) adalah hari gembira dan bahagia. Maka itu semua tidak mengapa.

.

Sumber : WA Miratsul Anbiya Indonesia dari http://ar.miraath.net/fatwah/4062

Berhari Raya Bersama Penguasa

Berhari Raya Bersama Penguasa

Oleh : Al Ustadz Ayip Syafruddin

.

Berhari Raya Bersama Penguasa

.

Al-Imam Ibnu Baththah rahimahullah, dalam Al-Ibanah, menyebutkan, bahwa telah menjadi kesepakatan di kalangan ulama ahli fikih, ilmu, ahli ibadah dan orang-orang zuhud sejak generasi pertama hingga sekarang, Shalat Jumat, Idul Fitri, Idul Adha, hari-hari Mina dan Arafah, jihad, haji serta penyembelihan hewan kurban dilaksanakan bersama penguasa. Penguasa yang baik atau jahat.

Telah menjadi prinsip agama pula bahwa penguasa wajib ditaati dalam hal yang ma’ruf. Termasuk ketaatan terhadap penguasa, yaitu mengikuti ketetapan pihak penguasa atau pemerintah dalam penentuan hari raya bagi seluruh kaum muslimin. Dengan mengikuti keputusan penguasa dalam hal penetapan hari raya berarti telah menunaikan titah Allah Ta’ala:

يا أيها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم
.

.

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan ulil amri di antara kalian.” (An-Nisa:59)

Yang dimaksud ulil amri dalam firman Allah di atas, yaitu penguasa dan para pemimpin umat. Mereka adalah orang-orang yang wajib untuk ditaati (dalam hal yang ma’ruf).

Dalam hadits Bukhari-Muslim, hadits dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من أطاعني فقد أطاع الله ومن عصاني فقد عصى الله ومن أطاع أميري فقد أطاعني ومن عصى أميري فقد عصاني

“Barangsiapa menaatiku, sungguh ia telah menaati Allah. Barangsiapa bermaksiat kepadaku, sungguh ia telah bermaksiat kepada Allah. Barangsiapa menaati pemimpin, sungguh ia telah menaatiku. Barangsiapa bermaksiat terhadap pemimpin, sungguh ia telah bermaksiat kepadaku.”

Terkait menaati keputusan penguasa atau pemerintah dalam hal berhari raya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan bimbingannya. Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:

الصوم يوم تصومون والفطر يوم تفطرون والأضحى يوم تضحون

“Berpuasa adalah pada hari kalian (kaum muslimin) berpuasa, (begitu pula) berbuka (merayakan Idul Fitri) pada hari kalian berbuka dan berkurban (merayakan Idul Adha) pada hari kalian berkurban.”

Al -Imam At-Tirmidzi rahimahullah menyebutkan (dalam Tuhfatul Ahwadzi), bahwa berpuasa dan berbuka ditunaikan secara berjamaah dan bersama mayoritas kaum muslimin.

Untuk mewujudkan kebersamaan tersebut tentu harus dibawah arahan penguasa. Sebagaimana disebut para ulama, bahwa menentukan ketetapan hari raya diputuskan oleh pihak penguasa atau pemerintah.

Dengan mengikuti tuntunan agama yang benar, maka syiar-syiar Islam akan nampak. Kebersamaan dan persatuan akan terasa di hati umat. Semua itu tentu merupakan nikmat yang tiada terhingga. Semoga dengan menaati penguasa dalam hal yang ma’ruf, termasuk hari raya Idul Fitri, membangkitkan kebaikan bagi kaum muslimin. Allahu ‘a’lam.